Kenaikan Tarif Listrik-BBM Kerek Inflasi

Sabtu, 07 Januari 2017 | 08:20
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID– Tekanan inflasi tarif tenaga listrik (TTL) 900 VA dan harga BBM pada tahun ini diperkirakan tidak berlangsung lama. Sebab, inflasi dari komponen bahan pangan bergejolak atau volatile food diprediksi dapat lebih ditekan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, inflasi pada akhir 2016 menunjukkan angka yang baik di 3,02 persen. Menurut dia, tahun ini memang akan ada tekanan harga komponen yang diatur pemerintah (administered price). Namun, inflasi diyakini tetap akan terkendali. ’’Efeknya akan temporer. Permintaan tetap akan naik. Tapi, dari sisi suplai masih mampu mencukupi,’’ ujarnya di kantor BI kemarin (6/1).

Dia meyakini sejauh ini koordinasi BI dengan pemerintah cukup baik dalam upaya mengendalikan harga pangan. Perry membeberkan, beberapa faktor yang memengaruhi terkendalinya inflasi tahun lalu, antara lain, harga barang impor yang rendah berkat stabilnya nilai tukar. Juga, ekspektasi inflasi dari masyarakat yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal itu membuat harga, terutama harga komponen volatile food, mengalami kenaikan yang masih dalam batas kewajaran. 

’’Tahun lalu, saat Desember, nilai tukar lebih stabil bahkan sempat menguat. Jadi, kebutuhan stabilisasi (nilai tukar) lebih rendah dibanding saat pengumuman hasil pemilu AS (November 2016),’’ ujarnya.

Perry menambahkan, meski harga komoditas pangan sempat naik pada akhir tahun, stabilnya nilai tukar mampu meredam gejolak harga. Terutama untuk barang impor. Sejauh ini pemanfaatan kapasitas suplai nasional baru 80 persen dari total kebutuhan. Tahun ini, meski tekanan harga volatile food diyakini dapat meredam gejolak dari administered price, BI tetap akan terus memantau efeknya.

Secara terpisah, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan, pemerintah harus sangat berhati-hati menentukan timing yang tepat untuk menaikkan harga. Pada awal tahun, masyarakat sudah menerima harga-harga baru untuk TTL dan BBM. ’’Yang elpiji belum yah, sama BBM satu harga juga masih baru. Nah, ini harus diwaspadai,’’ ujarnya setelah pelantikan dua deputi gubernur BI di Mahkamah Agung kemarin.

BI memperkirakan inflasi pada Januari 2017 sebesar 0,6 hingga 0,7 persen. Pada Desember lalu, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,42 persen dan termasuk yang cukup rendah dibanding inflasi Desember dalam lima tahun terakhir. Inflasi pada akhir tahun lalu, kata Agus, bisa ditekan berkat tekanan harga komoditas hortikultura yang menurun dibanding pada November 2016.

Sementara itu, pada awal tahun ini, publik sempat dihebohkan dengan biaya pengurusan pajak kendaraan yang naik berkali lipat. Namun, menurut Agus, hal itu tidak akan memengaruhi inflasi secara keseluruhan. Justru yang harus diwaspadai adalah komponen TTL, BBM, dan elpiji yang subsidinya dikurangi tahun ini. Komponen-komponen tersebut tahun lalu memberikan tekanan terhadap inflasi sekitar 0,8 sampai 1,1 persen. ’’Kita perkirakan antara segitu (tekanannya terhadap inflasi). Tapi, kita ke depan akan jaga core inflation (inflasi inti) dan volatile food,’’ papar mantan menteri keuangan tersebut.

Menurut dia, target inflasi sekitar 3 hingga 5 persen pada tahun ini akan dapat tercapai sepanjang inflasi harga pangan terkendali. Untuk itu, BI telah bersiap meluncurkan sistem pemantauan 20 komoditas pangan di 82 kota yang bisa terdata secara harian. Pemantauan harga dilakukan di pasar modern dan pasar tradisional di kota-kota tersebut. Sebelumnya, BI membuat prediksi berdasar survei pemantauan harga (SPH) secara bulanan. Dengan sistem pantauan harga komoditas strategis secara harian, prediksi dan antisipasi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.

Dengan demikian, pemerintah bisa mengetahui kecenderungan inflasi di Indonesia atau di kota dan regional. ’’Terakhir, ketika Pak Presiden hadir di acara pangan di Brebes, kita sudah siap finalisasi dan sudah bisa kita selesaikan pada 2016. Sekarang sudah berjalan (sistem pemantauannya), tinggal menyelenggarakan roundtable policy dialog (dialog kebijakan) dengan kementerian terkait, dan kita akan meluncurkan itu (sistem pemantauan harga pangan strategisnya, Red),’’ paparnya. (rin/c17/agm/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%