Industri Rokok Bakal Tertekan

Minggu, 08 Januari 2017 | 19:53
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Harga jual rokok diprediksi bakal meroket 10-20 persen. Itu terjadi menyusul kebijakan pemerintah menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan cukai hasil tembakau. Meski begitu, lonjakan harga jual rokok akan bervariasi sesuai golongan rokok.

Pasalnya, tiap golongan dikenakan tarif cukai berbeda. ”Aslinya bervariasi. Tetapi, sejumlah jenis rokok mungkin bisa sampai 20 persen,” tutur Ketua UmumGabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moeftie.

Golongan rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) I berpotensi menaikkan harga jual hingga 20 persen. Sedang kenaikan tidak signifikan kemungkinan terjadi pada rokok golongan Sigaret Kretek Tangan (SKT) III-B. Maklum, SKM I merupakan golongan dikenakan cukai tinggi mencapai 15,66 persen. Semnetara SKT III-B bernasib baik alias belum dikenakan cukai sehingga kenaikan harga jual tidak signifikan.

Pemerintah mulai tahun ini, resmi mengerek tarif PPN dari semula 8,7 persen menjadi 9,1 persen. Lonjakan tarif itu berlaku untuk semua golongan rokok. Mengacu rata-rata harga jual rokok saat ini sekitar Rp 18 ribu per bungkus, dengan kenaikan tarif PPn itu, minimal harga jual menanjak ke level Rp 20 ribu per bungkus.

Efeknya bilang Muhaimin, produksi industri rokok akan tertekan. Padahal, penurunan telah terjadi sejak tiga tahun terakhir akibat harga jual rokok tinggi. Kemudian menekan konsumsi rokok masyarakat karena daya beli menurun. ”Industri rokok tertekan,” ucapnya.

Berdasar data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu), penerimaan cukai rokok tahun lalu merosot Rp 1,54 triliun menjadi Rp 137,96 triliun, dari edisi 2015 di kisaran Rp 139,5 triliun. DJBC mencatat penurunan cukai diterima negara seiring produksi industri rokok tertekan, dari semula 348 miliar batang menjadi 342 miliar batang atau menurun 6 miliar batang sepanjang tahun lalu.

Adapun Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Ismanu Soemiran menyebut, industri rokok skala kecil dan menengah dengan modal cekak akan menjadi golongan paling tertindas. Kondisi itu semakin parah karena rokok ilegal merebak. ”Rokok ilegal dijual dengan harga murah tanpa pajak dan cukai,” tegas Ismanu.

Dengan fakta itu bilang Ismanu, masyarakat berpotensi melakukan subtitusi ke rokok lebih murah. Alasannya sangat logis, dengan rokok ilegal menjamur dan harga murah, masyarakat akan lebih memilih rokok dengan banderol terjangkau. ”Ini jelas merugikan industri rokok legal dan pemerintah,” ucapnya.

Karena itu, ia mendesak pemerintah menertibkan peredaran rokok ilegal. Karena hal itu menyebabkan dan menggerus penerimaan cukai. (far)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%