Freeport Masih Malu-Malu Go Public

Minggu, 08 Januari 2017 | 20:38
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Otoritas pasar modal memastikan initial public offering (IPO) perusahaan asing paling banter tahun depan. Pasalnya, proses penawaran saham perdana itu butuh waktu tidak singkat. Apalagi, perusahaan asing itu merupakan emiten bursa Malaysia, Singapura, Sydney, dan New York.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat menilai, proses IPO tercepat bisa dilakukan tiga dari 52 perusahaan asing akan go public dalam waktu dekat, yaitu paruh kedua tahun ini. ”Mereka masih kalkulasi, soal mekanisme, dan juga melakukan kalkulasi di tingkat internal perusahaan,” tutur Samsul.

Di samping itu, perusahaan asing manca beroperasi di Indonesia tidak bisa seenaknya menggelar IPO. Sebagai perusahaan asing tentu butuh skema Sertifikat Penitipan Efek Indonesia (SPEI) atau Indonesia Depository Receipt (IDR). Meski begitu, secara mekanisme tidak bakal jauh ada perbedaan dengan perusahaan lokal. ”Ya, mekanismenya memang begitu,” imbuhnya.

Regulasi SPEI diluncurkan otoritas jasa keuangan (OJK) pada 1997 silam tentang Penawaran Umum SPEI. Tetapi, sejak beleid itu dirilis, belum ada perusahaan asing memanfaatkan. Saat ini, OJK tengah menginisiasi untuk memperbarui aturan itu supaya seusai kondisi terkini. ”OJK minta masukan untuk penyempurnaan SPEI,” ulas Samsul.

Pemerintah bilang Samsul tidak menutup kemungkinan memberi kemudahan perusahaan manca go public. Sesuai arahan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani kalau pasar modal merupakan pilar ekonomi negara dan pemerintah akan fokus membuat kebijakan memudahkan calon emiten.

Terkait insentif Samsul mengaku tidak terlalu krusial. Alasannya, kebijakan IPO dianggap berdasar kebutuhan perusahaan. Karena ada sejumlah manfaat didapat perusahaan dengan menyandang status emiten. ”Justru mereka mendapat banyak benefit setelah go public,” tegasnya.

Salah satu perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) PT Freeport Indonesia (PTFI) berencana go public. Di mana, PTFI juga berkomitmen mendivestasi saham kepada Indonesia 30 persen hingga 2019 mendatang.

Saat ini, pemerintah baru memiliki 9,36 saham PTFI. Artinya, PTFI harus melepas sekitar 20 persen lebih guna memenuhi kewajiban divestasi saham 30 persen. Nah, bisik-bisik PTFI ingin IPO terdengar Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida. Hanya kata Nurhaida, PTFI belum menyampaikan secara formal. ”Kabarnya begitu. Tapi secara formal belum ada pernyataan,” ucap Nurhaida. (far)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%