Produksi Susu di Jatim Diprediksi Tumbuh 10 Persen

Senin, 09 Januari 2017 | 10:52
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

 

INDOPOS.CO.ID– Produksi susu sapi segar di Jatim diperkirakan tumbuh minimal sebesar 10 persen pada 2017. Kenaikan tersebut berada di bawah rata-rata ideal. Namun masih jauh lebih tinggi jika dibandigkan dengan 2016 yang hanya mencatat pertumbuhan sekitar 3 persen.

Ketua Bidang Usaha Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim Sulistyanto mengatakan, dengan prediksi pertumbuhan hasil perah tersebut, produksi susu sapi segar di Jatim bisa mencapai 1.000 ton per hari. Sebelumnya, pada 2016, rata-rata produksi susu hanya sekitar 950 ton per hari. ”Kenaikan produksi tersebut dengan catatan harga bahan baku pakan ternak bisa terkendali dan ada peningkatan produktivitas,” ujarnya kemarin (8/1).

Per Januari 2017 peternak juga menikmati keuntungan dari kenaikan harga jual sebesar Rp 200 per liter. Dengan demikian, harga rata-rata untuk kualitas pertama Rp 5.735 per liter. Untuk kualitas di bawah itu, harga rata-rata Rp 5.600 per liter. Keuntungan yang didapat peternak juga digunakan untuk memperkuat usaha.

”Seperti kandang, peternak sudah mendapat pembinaan mengenai pemakaian karpet,” ujarnya. Upaya untuk memenuhi standar nasional Indonesia juga dilakukan melalui penggunaan wadah berbahan stainless steel buat menampung susu segar. Tentu itu tidak terlepas dari standar keamanan pangan.

Di samping kualitas, upaya untuk mengejar kuantitas juga dilakukan. Beberapa alternatif dilakukan untuk menggenjot jumlah populasi. Antara lain, inseminasi buatan dan embryo transfer.

”Embryo transfer ini paling cepat, tapi biayanya mahal. Kalau ini bisa mendapat bantuan dari pemerintah, tentu program swasembada susu bisa tercapai,” paparnya.

Mampu menyuplai 50 persen dari kebutuhan sudah bisa disebut swasembada. Sekarang porsi susu sapi lokal sebesar 18 persen. Sisanya, 82 persen, dipenuhi dari susu impor.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, berdasar hasil kunjungan ke beberapa sentra peternakan sapi perah di Jatim, ada pelambatan produksi susu. Padahal, 5–10 tahun lalu menunjukkan perkembangan.

”Kami melihat perkembangan susu sapi perah di koperasi susu di Pujon (Kota Batu, Red). Tapi, sejak lima tahun terakhir mulai melambat,” ujarnya dalam konferensi pers Sabtu (7/1). Berdasar identifikasi yang dilakukan, pelambatan itu disebabkan beberapa persoalan. Antara lain pakan, kandang, dan persoalan genetis.

”Kami mencoba mencari rumusan yang tepat dalam membantu para peternak. Seperti pembentukan kandang dan kredit pembiayaan,” tutur dia. (res/c11/sof/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%