USD Rebound, Rupiah-Indeks Kompak Melemah

Rabu, 11 Januari 2017 | 21:33
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
TERPURUK: Petugas Bank Indonesia sedang menyiapkan uang rupiah baru. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID-Apresiasi rupiah akhirnya terhenti. Koreksi rupiah itu terjadi menyusul dolar Amerika Serikat (USD) rebound. USD bangkit dari keterpurukan menyambut pidato perdana Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Mata uang negeri Paman Sam itu menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia lainnya.

Data Bloomberg menunjukkan, rupiah parkir di level Rp 13.319 per USD atau melemah dibanding penutupan sebelumnya di kisaran Rp 13.308 per USD. Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak pada kisaran harian Rp 13.296-13.341 per USD. Merujuk data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di kisaran Rp 13.327 per USD. Posisi itu melemah dibanding posisi kemarin di kisaran Rp 13.320 per USD.

Reuters mencatat, USD sedikit menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia menjelang konferensi Donald Trump. Indeks USD menanjak 0,2 persen menjadi 102,18. Kenaikan USD dipicu keuangan mengejutkan Trump dalam pemilihan presiden AS pada November telah menunjukkan tanda-tanda memudar, karena indeks telah pergi dari posisi puncaknya dalam 14 tahun di level 103,82.

Sementara, Euro terhadap USD juga tercatat mulai minus 0,1 persen menjadi 1,0545 setelah menyentuh level tertinggi dalam 10 hari di posisi 1,0628. Selain itu, USD juga terlihat menguat terhadap yen 0,3 persen ke posisi 116,100. Poundsterling juga tercatat merosot 0,1 persen ke posisi 1,2168 untuk kembali ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Selanjutnya, Dolar Australia tercatat flat di kisaran 0,7372 dan dolar Selandia Baru tetap stabil di posisi 0,6987 terhadap USD.

Menyusul koreksi rupiah itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga belum bisa keluar dari jebakan koreksi. Padahal, mayoritas bursa saham dunia dan regional Asia menguat. Indeks minus 8 poin (0,16 persen) menjadi 5.301 setelah bergerak di antara 5.301-5.322. Sebanyak 148 saham naik, 149 saham turun, 103 saham tidak bergerak, dan 177 saham tidak ditransaksikan.

Investor bertransaksi Rp 5,3 triliun, terdiri dari transaksi reguler Rp 4,42 triliun, negosiasi Rp 882,06 miliar, dan tunai Rp 352 juta. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp 57,28 miliar. Sebanyak tujuh dari total 10 indeks sektoral melemah, dipimpin sektor aneka industri defisit 1,74 persen dan infrastruktur turun 0,57 persen.

Mayoritas indeks saham Asia menguat. Indeks Nikkei225 Jepang naik 0,33 persen, Kospi Korsel menguat 1,47 persen, dan Hang Seng Hong Kong terapresiasi 0,84 persen. Sebagian besar indeks saham Eropa juga menguat sejak pembukaan. Indeks FTSE100 Inggris surplus 0,18 persen dan DAX Jerman menguat 0,04 persen, sedang CAC Perancis terkoreksi 0,02 persen.

Research Department PT Asjaya Indosurya Securities William Surya wijaya menilai Indeks terlihat masih berada dalam fase konsolidasi menjelang lansir kinerja emiten secara tahunan bulan ini. Perbaikan kinerja emiten bakal dapat mendongkrak lonjakan Indeks. Indeks menjaga level support 5.288 sebelum melanjutkan kenaikan menuju resistance 5.418.

Apresiasi Indeks akan ditopang penguatan sejumlah saham. Diantaranya Jasa Marga (JSMR), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Adhi Karya (ADHI), Wijaya Karya (WIKA), Kalbe Farma (KLBF), Bank Negara Indonesia (BBNI), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Alam Sutera (ASRI), dan Pakuwon Jati (PWON). (far)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%