Iklim Investasi Samarinda Masih Tumbuh Positif

Sabtu, 21 Januari 2017 | 12:08
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID– Meski dirundung masa-masa yang sulit, perekonomian Samarinda tetap bertahan dan tumbuh dengan positif. Dari rencana investasi Rp 11 triliun pada tahun lalu, Pemkot Samarinda masih bisa membukukan Rp 7 triliun sebagai investasi. Sektor jasa dan perdagangan masih jadi andalan.

Kepala BP2TSP Samarinda Akhmad Maulana mengatakan, Samarinda sebagai ibu kota provinsi merupakan tumpuan aktivitas dari beberapa kabupaten/kota di sekitarnya. Kota Tepian selain sebagai pusat pemerintahan juga menjadi pusat perdagangan.

“Bontang, Kutai Barat, Tenggarong, dan Sangatta bergantung pada Samarinda. Sementara Balikpapan yang merupakan kota transit menjadi alternatif. Itu yang membedakan Samarinda dengan Balikpapan,” beber Maulana didampingi staf BP2TSP Muhtar Lubis.

Sektor jasa dan perdagangan jadi menjadi unggulan di Samarinda. Investasi tersebut selalu menjadi papan atas dalam catatan BP2TSP Samarinda. Bahkan, dalam ekonomi sulit saja, ekonomi ibu kota Kaltim tetap tumbuh positif.

Sebab, kata dia, sebagai daerah lintasan berbagai kabupaten/kota, banyak warga dari luar kota yang menginap di hotel agar bisa berlibur atau beraktivitas di Samarinda. “Makanya setiap akhir pekan pengunjung hotel dan mal di Samarinda membeludak. Mulai Jumat sore jalanan mulai macet, dan parkiran penuh. Data yang kami peroleh dari perhotelan begitu juga,” sebut dia.

Dia mengatakan, di hari biasa, hunian perhotelan bisa mencapai 30 sampai 40 persen. Sedangkan di akhir pekan bisa menanjak menjadi 60 sampai 70 persen. Menurut dia, angka itu di atas rata-rata nasional. Maulana menyebut, saat ini pengusaha hotel sedang perang tarif. Hal itu merupakan upaya agar tetap bisa survive di masa sulit. “Kalau tidak begitu ya kalah,” ulas dia.

Maulana menerangkan, saat ini hotel berani banting harga hingga Rp 299 ribu. Sebab, perhitungannya lebih baik harga murah tapi yang menginap banyak daripada harga tinggi tapi sepi peminat. “Menggaet konsumen bukan dari harga lagi, tapi dari jumlah,” tutur dia.

Dia membayangkan, bila ekonomi tak sulit, pasti bakal lebih ramai lagi. Sementara sektor perdagangan di Samarinda cukup baik. Beberapa investor masuk seperti Lotte Grosir dan Indogrosir. Hingga kini mereka eksis. “Sektor jasa dan perdagangan itu paling besar di Samarinda. Kalau pun turun tak signifikan dibanding skala nasional dan regional,” kata dia.

Dikatakannya, dulu perekonomian di Samarinda didominasi pertambangan. Tapi begitu emas hitam mulai lesu, multiplier effect dari merosotnya ekonomi tambang itu mulai terasa. Sektor lain, seperti properti terkena imbasnya. Kini, sektor tambang jadi yang paling bawah. Tidak mati, tapi daya beli menurun.

“Upaya pemerintah untuk menjaga sektor jasa dan perdagangan tetap tinggi dengan cara memfasilitasi kemudahan berinvestasi. Pelayanan dipermudah dan dipercepat,” ungkap dia. (*/hdd/lhl/k18/Kaltim Post/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%