Instabilitas Politik Ganjal Investasi Properti

Rabu, 25 Januari 2017 | 21:35
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Pengembang properti Intiland Development (DILD) memproyeksi pendapatan penjualan (marketing sales) Rp 2,28 triliun. Menanjak 35-40 persen dari periode sama tahun lalu di kisaran Rp 1,63 triliun. Target itu didasari pasar properti akan lebih kondusif dan telah mempertimbangkan rencana peluncuran dua produk skala besar tahun ini.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menilai tren pasar properti cenderung bergerak positif. ”Puncak ketidakstabilan iklim politik akhir tahun lalu memaksa kami menjadwal ulang rencana peluncuran dua proyek baru,” tutur Archied.

Kedua proyek itu merupakan pengembangan mixed-use dan high rise skala besar berlokasi di pusat bisnis Jakarta dan Surabaya Barat. Koreksi pasar properti tahun lalu berdampak pada penurunan penjualan. Ketidakstabilan politik menyebabkan pasar cenderung bersikap menunggu. Padahal, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan pro pasar, macam penetapan peraturan kepemilikan properti warga negara asing dan pelaksanaan program amnesti pajak.

Nilai pencapaian tersebut lebih rendah 13 persen dibandingkan perolehan tahun 2015 mencapai Rp 1,874 triliun. Selain akibat kondisi pasar tertekan, jadwal ulang peluncuran dua proyek baru menjadi penekan utama penjualan. Kontribusi terbesar marketing sales 2016 dari segmen pengembangan kawasan perumahan dengan kontributor Rp 648 miliar, atau setara 40 persen dari total pencapaian.

Selanjutnya, segmen pengembangan mixed-use dan high rise menyumbang sebesar Rp 590 miliar atau 36 persen. Segmen pengembangan kawasan industri berkontribusi sebesar Rp 81 miliar atau 5 persen. Kemudian, senilai Rp 313 miliar atau 19 persen dari segmen properti investasi terdiri dari penyewaan perkantoran, ritel, fasilitas, pergudangan dan industri, pengelolaan lapangan golf serta sarana olahraga.

Archied melanjutkan berdasar tipe, pendapatan pengembangan (development income) masih menjadi kontributor terbesar dengan pencapaian Rp 1,319 triliun atau 81 persen. Kemudian kontribusi pendapatan berkelanjutan (recurring income) tercatat Rp 313 miliar atau 19 persen. Segmen properti investasi sebagai sumber pendapatan berulang naik 23 persen dibanding tahun lalu, menyusul peroperasian perkantoran South Quarter.

”Pendapatn berulang tidak sekadar berkontribusi tetapi sukses memberi stabilisasi operasional dan pertumbuhan perusahaan,” kata Archied.

Perampungan proyek perkantoran sewa South Quarter dan penyewaan fasilitas bangunan pabrik standar (Standard Factory Building) di kawasan Ngoro Industrial Park, menjadi faktor pendorong meningkatkan kontribusi pendapatan berulang.

Segmen lain relatif membukukan kinerja bagus yaitu pengembangan kawasan perumahan. Segmen ini membukukan peningkatan marketing sales 22 persen menjadi Rp 648 miliar dari tahun lalu Rp 530 miliar. Peningkatan itu ditopang penjualan unit-unit rumah kawasan Graha Natura Surabaya dan Serenia Hills Jaksel. (far)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%