Pertumbuhan Ekonomi Lebihi Ekspektasi

Senin, 06 Februari 2017 | 21:36
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Badan Pusat Statistik (BPS) optimistis perekonomian lebih kencang dan melangkahi level 5,1 persen. Dasarnya, rekam jejak tahun lalu, ekonomi mencapai 5,02 persen, di bawah target anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBNP) sebesar 5,2 persen. Itu juga lebih besar dari periode 2015 di kisaran 4,88 persen.

”Jadi, kami percaya ke depan pertumbuhan ekonomi bakal menjadi lebih kencang dengan dukungan fundamental kuat,” tutur Kepala BPS Suhariyanto, di Jakarta, Senin (6/2).

Suharyanto mengaku, pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal IV 2016 hanya mencapai 4,94 persen (yoy) atau lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya, 5,01 persen. Tetapi, kalau dilihat, secara harga berlaku nilai produk domestik bruto (PDB) kuartal IV 2016 mencapai Rp 3.194 triliun naik dari kuartal IV 2015 sejumlah Rp 2.942 triliun.

Kemudian dari sisi produksi, tahun lalu pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai sektor jasa keuangan dengan rekor 8,9 persen.  Itu akibat pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) jasa perantara keuangan dan pertumbuhan pendapatan operasional lembaga pembiayaan. 

Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi mengekor di kisaran 8,87 persen, dan diikuti sektor jasa lain 7,8 persen. ”Tulang punggung pertumbuhan ekonomi sepanjang 3 tahun terakhir dipegang industri pengolahan dengan kontribusi 0,92 persen,” ulasnya. 

Dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi rumah tangga menguat dengan tumbuh 5,01 persen dan mengambil porsi 56,5 persen dari seluruh perekonomian. Konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (LNPRT) juga tumbuh positif 6,62 persen (yoy) dengan porsi 1,16 persen terhadap perekonomian. Itu sejalan dengan peningkatan aktivitas kegiatan organisasi masyarakat dan partai politik untuk persiapan dan pemilihan kepala daerah serentak di 101 daerah.

Selanjutnya, investasi tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 4,48 persen dan berkontribusi 32,57 persen ke kue ekonomi. Sedang konsumsi pemerintah laju negatif 0,15 persen. Padahal, porsi 9,45 persen ke perekonomian. Pengeluaran konsumsi pemerintah terkontraksi terutama dipicu penurunan belanja bantuan sosial.

Hal senada terjadi pada sektor ekspor dan impor masing-masing negatif 1,74 persen dan minus 2,27 persen. Ekspor terkontraksi dipicu kontraksi pada ekspor barang minyak dan gas (migas) dan non migas, meski ekpor jasa menguat seiring dengan pertumbuhan jumlah turis asing. Sedang impor turun menyusul koreksi impor bahan baku dan penolong seiring pelambatan pertumbuhan industri manufaktur hanya 3,36 persen (yoy). (far)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%