BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen

Sabtu, 18 Februari 2017 | 07:41
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Bank Indonesia (BI) tidak mengubah suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo 4,75 persen. Begitu pun suku bunga deposit facility (DF) tetap bertahan di kisaran 4 persen dan suku bunga lending facility 5,5 persen.

BI mengklaim keputusan itu diambil dalam upaya menjaga stabilitas makro ekonomi dan tetap mendukung momentum pemulihan ekonomi domestik, selaras perbaikan ekonomi global. ”Pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dengan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga,” tutur Gubernur BI Agus D.W Martowardojo di Jakarta, Kamis (16/2).

Agus melanjutkan, keputusan itu diambil berdasar pertimbangan keadaan sejumlah indikator ekonomi tetap stabil selama beberapa waktu terakhir. Tahun ini, perekonomian global akan cenderung membaik terutama didukung Amerika Serikat (AS) dan China diikuti harga komoditas global terus meningkat.

Ekonomi China diperkirakan tumbuh cukup kuat seiring re-balancing ekonomi berlangsung secara bertahap. Harga minyak dunia dan komoditas ekspor Indonesia menunjukkan peningkatan di samping rencana ekspansi fiskal AS. ”Di tengah sinyal pengetatan moneter dapat mendorong dolar AS dan penyesuaian suku bunga AS lebih cepat,” ulas Agus.

Berdasar data BI, tingkat inflasi awal tahun tetap terjaga meski sempat mengalami tekanan akibat sejumlah harga barang dan jasa diatur pemerintah (administered price) menanjak. Misalnya, tarif administrasi pembuatan STNK, tarif golongan listrik tertentu hingga kenaikan harga bahan bakar khusus (BBK). ”Inflasi tetap terkendali meski sempat tertekan Januari,” jelasnya.

Inflasi IHK tercatat 0,97 persen month to month (mtm), lebih tinggi dari bulan sbelumnya, mencapai 0,42 persen mtm. Kenaikan inflasi itu disumbang kelompok administered price. Selain inflasi, nilai tukar rupiah juga menjadi pertimbangan BI menentukan arah kebijakan.

Akhir tahun lalu, nilai tukar rupiah sempat tertekan akibat peningkatan kebutuhan dolar AS (USD) untuk pembayaran utang luar negeri (ULN). Kemudian diperburuk ketidakpastian ekonomi pasca pemiliu Presiden AS dan hasil kenaikan Fed Fund rate akhir tahun lalu. ”Untungnya, rupiah kembali menguat 0,9 persen menjadi Rp 13.352 per USD pada Januari 2017,” tukasnya.

Selanjutnya, BI akan konsisten menjaga stabilitas makro ekonomi dengan tetap mendukung momentum pemulihan ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi diprediksi membaik dengan stabilitas sistem keuangan terjaga. BI juga tetap mewaspadai sejumlah risiko terutama penyesuaian administered prices bisa berdampak pada inflasi.

Sementara itu, terkait melemahnya rupiah saat Pilkada, Vice President of Market Research Forextime Jameel Ahmad mengatakan, kondisi ini tidak serta-merta dipengaruhi oleh kegiatan Pilkada tersebut.

”Karena mata uang lain juga mengalami penurunan, seperti Ringgit Malaysia, Yuan China, dan Won Korea. Saya sendiri berpendapat bahwa pelemahan ini lebih terkorelasi kepada komentar pejabat Federal Reserve bahwa bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga AS paling tidak sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2017,” katanya. (far/wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%