Stabilitas Rupiah Masih Terjaga

Senin, 06 Maret 2017 | 20:56
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-The Federal Reserve (The Fed) bakal menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) bulan ini. Langkah itu didasari perbaikan data tenaga kerja dan laju inflasi Negeri Paman Sam tersebut. Penyesuaian Fed Rate itu, disebut-sebut tidak bakal mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Lonjakan Fed Rate bakal membuat nilai tukar sejumlah mata uang negara-negara kawasan Asia bergejolak, tidak terkecuali rupiah. Namun, fluktuasi itu diyakini bersifat temporer (bersifat jangka pendek). Alasannya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat. ”Dampak Fed Rate tidak terlalu signifikan. Rupiah cenderung stabil,” tutur Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Di samping faktor fundamental, pemerintah juga terus mengantisipasi kenaikan Fed Rate. Terakhir, The Fed menaikkan suku bunga 25 basis points (bps) pada Desember 2016 lalu. Kala itu, pemerintah memperkuat cadangan devisa (Cadev) dan protokol manajamen krisis di pasar keuangan. ”Kami lihat hanya bersifat jangka pendek. Jadi, tidak perlu khawatir,” tambah Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal.

Menurut Faisal, saat ini fundamental ekonomi nasional cukup kuat. Itu terefleksi dari pertumbuhan ekonomi 5,02 persen, posisi cadev meningkat menjadi USD 117 miliar, dan neraca perdagangan surplus.

Namun, untuk jangka panjang, pemerintah perlu mewaspadai kenaikan yield obligasi dan berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). ”Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus merilis kebijakan bersifat antisipasi jangka pendek hingga panjang,” tegasnya.

Sementara Wakil Ketua Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Raden Pardede menuturkan, efek kenaikan Fed Rate terhadap dunia usaha belum menentu. Itu sangat bergantung kebijakan BI merespon kenaikan Fed Rate. ”Penyesuaian Fed Rate sudah cukup lama diproyeksikan,” ungkapnya.

Kalau kenaikan Fed Rate 25 bps , BI dinilai tidak bakal mengerek suku bunga acuan BI. Kalau itu, menjadi pilihan BI, imbas terhadap dunia usaha tidak bakal signifikan. Apalagi, dunia usaha telah mengalkulasi potensi tersebut.

Nah, kalau kenaikan Fed Rate lebih dari 25 bps, USD akan meningkat drastis dan berpotensi menyedot dana di negara-negara berkembang (emerging market) balik ke AS. ”Nah, di sini BI harus hati-hati menjelaskan ke dunia usaha dan pasar,” ingatnya. (far)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%