Nasib RBS, Alarm Bahaya Bank Asing

Selasa, 07 Maret 2017 | 19:44
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-The Royal Bank of Scotland N.V (RBS Indonesia) menyudahi bisnis setelah izin dicabut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). RBS Indonesia balik kanan karena menelan rugi puluhan miliar. Bank bermarkas di Skotlandia itu menelan rugi Rp 28,23 miliar.

Jumlah kerugian itu sebetulnya masih lebih baik dari edisi sebelumnya di kisaran Rp 78,13 miliar. Namun, manajemen induk usaha tidak kuasa menanggung rugi lebih lama. Kondisi RBS Indonesia itu sejatinya juga dirasakan Industri bank asing atau bank-bank berstatus Kantor Cabang Bank Asing (KCBA). Pada 2015 lalu, industri bank asing dalam negeri membukukan laba negatif 40,8 persen, tepatnya dari Rp 8,71 triliun pada 2014 silam menjadi Rp 5,16 triliun.

Untungnya, tahun lalu laba bank asing kembali menggeliat menyentuh Rp 8,41 triliun atau melesat 62,9 persen dari tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan laba bank asing itu kontra produktik dengan bisnis penyaluran kredit yang  minus 3,87 persen. ”RBS Indonesia terpuruk tidak berdiri sendiri. Itu juga akibat krisis induk usaha di Britania Raya,” tutur Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira.

Akibat krisis itu, terjadi perampingan besar-besaran pada seluruh kantor cabang RBS di luar negeri. Itu juga dilakukan sejumlah bank global, macam Deutsche Bank, JP Morgan dan Standard Chartered, dan HSBC. Empat bank itu juga memangkas karyawan dalam jumlah besar. ”Krisis memaksa melakukan efisiensi menyusul profit tertekan secara signifikan,” imbuhnya.

Selain itu, karena perseroan tidak mampu bersaing dengan sejumlah KCBA besar lain masih bertahan. Dari sisi aset, RBS Indonesia tertinggal jauh dari bank asing sekelas The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (MUFG) senilai Rp 140,5 triliun atau HSBC Indonesia dengan aset Rp 92,06 triliun. ”Pelemahan ekonomi global memaksa nasabah bank asing, khususnya segmen korporasi, terimbas,” tegasnya.

Debitur sektor manufaktur dan komoditas disebut-sebut paling parah mengalami penurunan kemampuan membayar cicilan alias menyumbang kredit macet. Sedang nasabah individu bidikan bank asing mayoritas memiliki karakteristik sebagai nasabah kaya dengan rata-rata simpanan mencapai Rp 500 juta ke atas. Artinya, nasabah bank asing tidak terdiversifikasi ke banyak segmen, sehingga rentan terkena risiko. ”Persaingan antar bank asing relatif ketat dengan berebut ceruk pasar sama. Kami prediksi, akan ada bank asing mengikuti jejak RBS,” ucap Bhima.

Di sisi lain, bisnis peninggalan RBS Indonesia akan berpindah ke bank asing lain. Itu karena nasabah bank asing mempunyai karakter serupa, yaitu percaya dengan pelayanan bank asing dibanding bank nasional. ”Pasti pinda ke bank asing lain,” tambah Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan.

Untuk menghindari dampak lanjutan, banyak bank asing mulai mengubah strategi bisnis. Salah satunya, menyasar segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sayangnya, banyak bank asing belum memiliki kemampuan menyalurkan kredit pada segmen UMKM. Dengan begitu, akan sangat sulit bersaing dengan bank lokal, macam Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR). (far)    

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%