Infrastruktur Pilihan Terbaik BNI

Kamis, 13 April 2017 | 20:16
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID– PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatatkan pertumbuhan yang kuat pada penyaluran kredit di kuartal I 2017. Yakni, sebesar 21,4 persen secara year on year (yoy) atau mencapai Rp 396,52 triliun. Sebesar 72,6 persen dari total kredit atau Rp 287,85 triliun disalurkan ke sektor business banking.

Pendistribusiannya masih didominasi kredit korporasi yang mencapai 23,7 persen dari total kredit. Ditambah kredit untuk badan usaha milik negara (BUMN) sebanyak 20 persen dari total kredit. Khusus kredit ke BUMN, outstanding-nya tumbuh 37,8 persen (yoy) menjadi Rp 79,48 triliun.

Sebanyak 22,8 persen kredit bisnis korporasi BNI disalurkan ke sektor manufaktur dan 19,8 persen ke pertanian. Sektor kelistrikan, gas, dan alam mendapat kucuran kredit 13,7 persen. Sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi memperoleh kucuran kredit 8,5 persen. Sementara itu, sektor pertambangan menjadi yang paling kecil atau hanya 5,9 persen dari total kredit. Selain itu, 16,6 persen dari total kredit disalurkan ke sektor consumer. Kredit consumer BNI tumbuh 13,8 persen. Kredit berbasis payroll menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 118,1 persen (yoy).

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menuturkan, BNI optimistis pembiayaan pada sektor infrastruktur merupakan pilihan yang terbaik. Sebab, selain turut mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat dan memperluas pembangunan infrastruktur, hal itu memberikan kontribusi pertumbuhan yang besar bagi bisnis BNI secara keseluruhan.

Dengan menyalurkan kredit ke infrastruktur, BNI memperoleh peluang pengembangan bisnis penting dari supply chain financing, mulai hulu hingga hilir. ”Jadi, muncul sumber-sumber pendanaan baru dan fee based income baru dari segmen korporat. Di antaranya, dari syndication fee, trade finance, garansi bank, hingga cash management fee,” ujarnya.

Emiten berkode saham BBNI itu mencatat laba Rp 3,23 triliun atau tumbuh 8,5 persen (yoy). Kenaikan laba bersih tersebut ditopang pembiayaan ke sektor-sektor ekonomi produktif, terutama infrastruktur. Laba bersih BNI terbentuk oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 12,3 persen, dari Rp 6,91 triliun pada kuartal I 2016 menjadi Rp 7,76 triliun pada kuartal I tahun ini. Pencapaian NII tersebut mendukung net interest margin (NIM) tetap terjaga pada level 5,6 persen.   

Perolehan laba juga ditopang fee based income yang naik 14,2 persen, dari Rp 1,96 triliun pada kuartal I 2016 menjadi Rp 2,23 triliun pada kuartal I 2017. ”Itu didukung kenaikan fee based income dari trade finance, pengelolaan rekening, bisnis kartu, transaksi ATM, dan sumber pendapatan nonbunga lainnya,” ungkap Baiquni. Pencapaian itu telah mengantarkan return on equity (ROE) BNI ke level 16 persen, meningkat jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu di level 15,5 persen.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengungkapkan, investor mulai pekan ini memang tengah menunggu laporan keuangan dari emiten-emiten perbankan. Laporan laba bersih yang positif dapat menjadi pendorong bagi investor untuk tetap berminat pada saham-saham bank. Apalagi, sepanjang awal tahun, banyak pemberitaan mengenai kenaikan rasio kredit macet pada laporan keuangan emiten bank-bank besar. Secara total, rasio non-performing loan (NPL) perbankan di kuartal I tahun ini naik menjadi 3,16 persen. Pada posisi yang sama tahun lalu, NPL masih mencapai 2,93 persen.

”Investor mulai melihat laporan keuangan bank yang keluar. Saham sektor keuangan masih bergantung bagaimana mengatasi NPL serta ekspansi apa saja yang dilakukan bank,” tuturnya. Hingga kemarin, saham sektor keuangan tumbuh 8,77 persen secara year to date (ytd) dan menjadi sektor saham dengan pertumbuhan tertinggi ketiga di antara sembilan sektor saham lainnya. (rin/c16/sof/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%