Intiland Sebar Dividen Rp 51,8 Miliar

Jumat, 19 Mei 2017 | 10:34
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-Intiland Development (DILD) bakal menyebar dividen senilai Rp 51,8 miliar. Alokasi dividen itu berarti 17,3 persen dari total laba bersih tahun lalu sejumlah Rp 298,9 miliar. Dengan begitu, para pemegang saham bakal membawa pulang dividen sebesar Rp 5 per lembar saham.

Secara nilai, dividen itu tidak jauh berbeda dari episode tahun lalu di kisaran Rp 51,3 miliar. Porsi pembagian dividen itu seiring koleksi laba perusahaan tahun lalu relatif tertekan. ”Industri properti menghadapi tekanan berat sepanjang tahun lalu disebabkan banyak faktor,” tutur Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono di Jakarta, Kamis (18/5).

Laba bersih tahun lalu tergerus 25,53 persen menjadi Rp 102,5 miliar dari periode sama 2015 sejumlah Rp 401,48 miliar. Meski jumlah dividen stagnan, secara nominal, dividen itu terus menciut. Pada 2015 lalu, Intiland menyebar dividen Rp 102,7 miliar atau setara Rp 10 per saham setara 23,9 prsen dari total laba bersih sebesar Rp 429,2 miliar. Sementara, pada 2014 silam, Intiland membagi dividen Rp 82,1 miliar atau Rp 8 per saham. Itu berarti 25,6 persen dari total laba bersih 2013, yaitu Rp 323,63 miliar.

Tahun ini, perseroan mematok pendapatan pra-penjualan Rp 2,3 triliun. Angka itu akan dikontribusi sejumlah proyek eksisting dan dua proyek baru akan diluncurkan semester dua. Proyek-proyek itu semisal mixed use Rp 1,3 triliun dari lahan dan perumahan, kawasan industri serta dua proyek baru diluncurkan di Jakarta dan Surabaya diharap menyumbang Rp 479 miliar.

Dua proyek baru dijadwal meluncur tahun lalu. Tetapi, pelambatan industri properti membuat perseroan terpaksa menunda rencana tersebut. Penundaan itu berdampak terhadap pencapaian pendapatan pra penjualan (marketing sales) dan kinerja tahun lalu. Nilai perolehan marketing sales tercatat Rp 1,63 triliun, lebih rendah dibanding 2015 sebesar Rp 1,9 triliun.

Pendapatan usaha terakumulasi Rp 2,28 triliun atau naik 3,4 persen dibanding 2015 senilai Rp 2,2 triliun. Laba usaha mencapai Rp 404,3 miliar atau lebih rendah 11,6 persen dan laba bersih Rp 298,9 miliar atau lebih rendah 25,4 persen dari tahun sebelumnya. Koreksi laba terutama akibat lonjakan beban operasional dan beban bunga.

Tren pelambatan pasar properti berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini. Itu terefleksi pada nilai pendapatan usaha Rp 398,7 miliar atau turun 32,3 persen dibanding edisi sama 2016. Sementara itu laba usaha Rp 58,6 miliar dan laba bersih Rp 19,7 miliar. ”Masih ada pendapatan usaha belum dibukukan Rp 1,3 triliun. Pendapatan itu baru akan dibukukan pada penghujung tahun ini,” tukas Archied. (far)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%