Nilai Rupiah Sedikit Menurun dalam Masa Transaksi Lesu

Rabu, 31 Mei 2017 | 21:49
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-VP Market Research di FXTM Jameel Ahmad menganalisa, nilai tukar Rupiah telah turun dua hari berturut-turut di awal minggu ini meskipun turunnya dinilai hanya tergolong kecil dan Dolar Amerika hanya naik sekitar 0.05 persen ke angka 13,324.50 terhadap Rupiah. Mengikuti laporan pada awal Mei ini bahwa Bank Indonesia telah melakukan intervensi dalam pasar Forex untuk mencegah apresiasi Rupiah lebih lanjut, turunnya nilai mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika ini tidak perlu dikhawatirkan.

Menurut Jameel, setelah mengalami minggu penurunan yang paling besar selama 2017, Poundsterling Inggris mencoba untuk bertahan posisinya di sekitar 1.28 terhadap Dolar Amerika.

”Saya secara pribadi merasa bahwa politik akan terus mempengaruhi tren Poundsterling, dan saya percaya bahwa mata uang ini akan jatuh lebih dalam seiring dengan adanya pemilihan umum di Inggris yang akan diadakan sekitar seminggu lagi. Secara umum, pasar tidak menyukai adanya ketidakpastian dan hal ini telah terjadi berulang kali di Inggris – yaitu dengan adanya pemilihan umum sebentar lagi dan ketidakpastian Brexit yang mendominasi berita teratas,” kata Jameel.

 ”Dari pandangan saya, meskipun mengacu pada koreksi harga yang dalam dari 2017 dengan puncak harga di atas 1.30 pasar finansial masih tergolong di bawah nilai risiko untuk hasil pemilu yang tidak terduga minggu depan. Para penanam saham pada umumnya mengharapkan agar Theresa May dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan yang diadakan secara tiba-tiba itu, namun poling menunjukkan bahwa perlombaan untuk memenangkan pemilihan ini akan segera ditutup. Saya merasa bahwa sejarah bisa terulang, bahwa pasar saat ini meremehkan risiko hasil yang dapat berbeda daripada apa yang diharapkan, yang merupakan kemenangan Konservatif pada 8 Juni,” paparnya.

Jameel juga melihat, bukan hanya Poundsterling Inggris yang dipengaruhi oleh politik, akan tetapi politik vs ekonomi juga menjadi faktor utama ketika berjual beli USDJPY. Dia percaya bahwa politik akan terus mempengaruhi tren pasangan mata uang USDJPY ini di kuarter ke-2 di 2017, dan dia sebetulnya mengharapkan agar Yen kembali dapat melawan lawannya dan menjadi mata uang yang aman.

Kurangnya rasa optimisme bahwa Presiden Trump dapat mendorong reformasi legislatif akan memberikan perhatian pada Washington, dan Jameel memperkirakan hasil ini akan menambah tekanan lebih jauh terhadap Dolar Amerika.

”Ketidakpastian pasar di Amerika Serikat nantinya akan menyebabkan para penanam modal untuk kembali ke mata uang yang lebih aman yaitu Yen,” katanya.

Kemungkinan bahwa ECB akan mengulang retorika bertahan selama pertemuan dengan Bank Sentral Eropa di bulan Juni, telah mendorong para trader untuk mengambil posisi jual dalam Euro berbanding Dolar Amerika setelah pasangan mata uang ini mencapai puncak tertinggi di 2017 yaitu di atas 1.12 minggu lalu.

Meskipun data ekonomi Eropa terus mempertajam keyakinan bahwa ekonomi telah berbalik arah, pasar masih diragukan oleh kepercayaan bahwa bank Eropa (ECB) akan mengulang stimulus ECB pada bulan Juni dan ini akan menyebabkan Euro berbanding dolar terus turun ke level 1.10.

Menurutnya, para penanam modal tetap tidak terkesan dengan hasil pertemuan OPEC akhir minggu lalu, dengan komoditasnya yang sekali lagi menghadapi tekanan jual di USD50. Pandangan umum menunjukkan bahwa hasil pertemuan OPEC ini sangat mudah diduga dengan harga penanam modal sembilan bulan kedepan yang mengurangi hasil produksi, dan konfirmasi dari yang telah diprediksikan sebelumnya menunjukkan indikasi peluang jual bagi para trader.

”Saya tetap berpendapat pada pandangan bahwa pola pikir penanam modal akan tetap bertahan pada kesempatan aksi jual. Dan saya memperkirakan trader akan melanjutkan posisi jual sekitar USD50 dari yang telah mereka lakukan sebelumnya,” katanya.

 Ekspektasi negatif dalam pasar minyak bukan disebabkan oleh kurangnya upaya OPEC; hal ini lebih berkaitan dengan kepercayaan bahwa produsen US Shale akan meningkatkan jumlah produksi. Ancaman bagi sentimen penanam modal terlepas dari pihak OPEC yang mencoba untuk menyeimbangkan kelebihan persediaan di pasar adalah produsen US Shale akan dapat mengimbangi upaya ini dengan cara menaikkan inventaris di sisi mereka.

Untuk emas, berhasil menutup posisinya di atas USD1260 minggu lalu, dan sepertinya akan ada kemungkinan untuk naik sampai USD1275 dengan catatan bahwa Emas bisa bertahan di atas level USD1260.

”Ada beberapa faktor pendukung bahwa emas akan terus menguat di minggu-minggu ke depan, salah satunya adalah kenaikan suku bunga Amerika Serikat di bulan Juni yang telah dihargai di pasar finansial dan juga ketidakpastian pasar mengenai pemilihan umum yang akan terjadi di Inggris – hal ini mendorong pasar untuk beralih ke investasi yang aman,” katanya. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%