Jika tak Libatkan Konsumen, Branding akan Mematikan Sebuah Merek

Rabu, 31 Mei 2017 | 16:05
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Luiz Moutinho, pengajar dan pakar bidang BioMarketing dan Futures Research dari DCU Business School, Irlandia, pada seminar Branding Update: A New Perspective in Branding World dengan topik The Future of Branding yang diselenggarakan Program S1 Branding Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus Cilandak, Rabu (31/5).

INDOPOS.CO.ID - Sebuah penelitian (Kantar Worlpanel, 2016) menyebutkan bahwa di negara-negara berkembang, orang semakin menjauhkan diri dari berbagai brand (55 persen di Jepang, 54 persen di Inggris, dan 44 persen di AS), dan yang lebih mengejutkan, barang-barang kebutuhan dengan putaran omset cepat atau fast-moving consumer goods (FMCG) dengan merek di masa depan akan kehilangan 50 persen pembelinya.

Demikian diungkapkan Luiz Moutinho, pengajar dan pakar bidang BioMarketing dan Futures Research dari DCU Business School, Irlandia, pada seminar Branding Update: A New Perspective in Branding World dengan topik The Future of Branding yang diselenggarakan Program S1 Branding Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus Cilandak, Rabu (31/5).

“Artinya, branding yang tak memperhatikan konsumen dan semakin jauh dari keterlibatan konsumen adalah lonceng kematian bagi brand sebuah produk. Bila demikian merek menjadi tak berguna lagi," tegasnya.

Branding atau kegiatan penguatan merek yang dilakukan dengan komunikasi satu arah dan sumber yang tak dipercaya konsumen akan mematikan sebuah merek atau brand. “Era fuzzynomics yang membombardir informasi ke konsumen tanpa arti dan hanya bertujuan untuk mengarahkan publik untuk membeli sebuah produk sedang berakhir. Kondisi itu memisahkan secara tajam hubungan antara produsen dan konsumen. Baik merek maupun konsumen sama-sama tak punya konsep yang jelas," tambah Moutinho.

Kini konsumen ikut menentukan merek. Era branding dengan iklan monolog, dan berkhotbah gaya megalitik tak tersentuh sementara konsumen hanya boleh mendengarkan, kini sedang dan sudah berakhir. 

“Konsumen sekarang berinteraksi langsung dengan merek, lebih aktif memberi masukan, mengusulkan produk dan layanan yang dikehendaki atau sesuai dengan seleranya, menyentuh langsung pembuat kebijakan produk lewat saluran-saluran feedback yang ditawarkan produsen," kata Moutinho.

Era itu dimulai dengan fenomena internet, yang membebaskan konsumen dan membuka semua kemungkinan partisipasi dalam proses branding sebuah produk. "Contoh paling nyata misalnya, 44 persen pengguna internet di AS membagikan pemikiran dan pengalamannya tentang merek lewat media sosial," ungkap Moutinho menambahkan. 

Begitu pentingnya branding untuk produk dan perusahaan, Program S1 Marketing Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Prasetiya Mulya mengembangkan kurikulumnya. 

Menurut Fredy Utama, Manajer Program S1 Branding Universitas Prasetiya Mulya. “Sejak 2016 lalu S1 Marketing menjadi S1 Branding, agar menjadi lebih komprehensif dan siap menjawab tantangan industri yang selalu berubah," jelasnya.

Di S1 Branding, menurut Fredy, para mahasiswa ditantang untuk menjadi seorang brand strategist andal,  tidak hanya mampu memasarkan produk namun juga piawai mengidentifikasi konsumen, menciptakan produk unik, dan mengkomunikasikan produk secara terintegrasi dan terarah. Hal ini menjadikan konsumen lebih aware, interest dan melakukan pembelian.

Kegiatan branding yang terarah juga dapat menjadi brand produk tersebut menjadi kuat di benak konsumen dan menjadi pemimpin dalam persaingan pasar. 

Agus W. Soehadi, Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya menjelaskan, Branding merupakan the heart and the soul of the product and the company yang dibangun dari berbagai disiplin ilmu dalam menciptakan added value, persepsi dan juga pengalaman yang akan berdampak pada nilai dari brand itu sendiri di masa depan. "Brand dan branding memiliki peran utama yang menjadi dasar bagi tiap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan," jelas Agus. (rmn)

Editor : Ali Rahman
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%