Juni, Inflasi Indonesia Meningkat

Selasa, 04 Juli 2017 | 18:23
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, harga konsumen di Indonesia meningkat di bulan Juni mendekati 0.69 persen karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. Tingkat inflasi tahunan Indonesia saat ini adalah 4.37 persen dan ini mendekati batas atas dari target tahunan Bank Indonesia yaitu di kisaran 3 persen hingga 5 persen sehingga dapat terjadi peningkatan spekulasi tentang kenaikan suku bunga BI.

”Sentimen terhadap perekonomian Indonesia semakin bullish karena adanya pertanda stabilitas ekonomi, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan tampaknya akan tetap kuat. Pasar memprediksi Fed akan meningkatkan suku bunga AS lagi di tengah tahun kedua 2017, sehingga Bank Indonesia mungkin memutuskan untuk meningkatkan suku bunga pada akhir tahun guna membantu pertumbuhan sembari melindungi Rupiah dari kenaikan kurs Dolar AS,” kata Lukman Otunuga.

Soal Pound melemah karena aktivitas manufaktur Inggris melambat juga menjadi perhatian bagi Lukman. Menurutnya, sangat menarik menyaksikan Pound Sterling tetap tangguh di tengah terjangan risiko politik dan masalah ekonomi setahun terakhir. 

Rebound luar biasa pekan lalu yang dipicu oleh pernyataanhawkish Gubernur BoE Mark Carney adalah buktinya. GBPUSD menutup Q2 di atas 1.3000. Pound mungkin terdukung di jangka pendek saat spekulasi semakin besar bahwa suku bunga Inggris berpotensi ditingkatkan, namun kenaikan ini sepertinya tetap terbatas karena investor menyadari realita situasi Brexit,” katanya.

Menurut aspek fundamental makro, Sterling berpotensi melemah pada sesi perdagangan hari Senin karena data sektor manufaktur lebih buruk dari ekspektasi dan memaksa investor untuk meninjau kembali kemungkinan kenaikan suku bunga di tahun 2017.

Data aktivitas sektor manufaktur Inggris, katanya, turun menjadi 54.3 di bulan Juni, laju pertumbuhan terlambat dalam tiga bulan terakhir. ”Laporan yang mengecewakan ini semakin memperburuk sentimen dan semakin merefleksikan dampak Brexit bersama rilis ekonomi lainnya yang juga kurang menggembirakan,” katanya.

Lukman melihat, Dolar AS sedikit menguat pada sesi perdagangan hari Senin. Namun ini lebih diakibatkan oleh aksi ambil untung, bukan peningkatan optimisme. Berbagai komentar yang semakin hawkish dari sejumlah bank sentral di luar AS menekan daya tarik USD dan pasar mempertanyakan kemampuan Presiden Trump untuk merealisasikan kebijakan pro pertumbuhan yang ia ajukan.

Karena itu, Indeks Dolar berpotensi semakin melemah. Perhatian akan tertuju pada notulen rapat FOMC di hari Rabu yang akan digunakan pasar untuk mencari isyarat jadwal kenaikan suku bunga tahun ini. Apabila notulen ini memberi nada yang berbeda dari rapat FOMC bulan Juni, maka USD dapat mengalami volatilitas. Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar tetap tertekan di grafik harian dan bears membidik level resistance dinamis 96.50 untuk kembali menyerang.

Emas melemah di hari Senin mendekati level terendah tujuh pekan di harga USD1235 karena USD semakin stabil. Tekanan negatif ini ditambah prospek kebijakan moneter global yang semakin ketat membangkitkan para penjual.

”Walaupun situasi Brexit dan risiko politik AS dapat mendukung harga emas di jangka panjang, namun bears tetap memegang kendali di jangka pendek. Dari sudut pandang teknikal, apabila harga merosot di bawah USD1240 akan mendorong penurunan lebih lanjut menuju USD1220,” paparnya. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%