Penjualan Ritel Indonesia Meningkat di Bulan Mei

Kamis, 13 Juli 2017 | 19:26
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, optimisme terhadap ekonomi Indonesia menguat pada perdagangan Rabu setelah rilis data penjualan ritel Mei yang mengesankan sebesar 4.3 persen karena peningkatan permintaan bahan pangan.

Data penjualan yang menggembirakan ini mendukung PDB dan sesuai dengan optimisme Bank Indonesia terhadap pertumbuhan di masa mendatang. Prospek keseluruhan terlihat menjanjikan meninjau data domestik Indonesia yang terus menampilkan isyarat stabilitas.

”Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat di hari Rabu. Harga menyentuh 5819.132 karena sentimen terhadap Indonesia membaik. IHSG dapat semakin menguat pekan ini apabila selera risiko investor terhadap aset pasar berkembang terus meningkat,” kata Lukman Otunuga.

Tentang USD yang melambat menjelang testimoni Yellen, menurut Lukman, USD dikuasai bears pada sesi perdagangan hari Selasa karena berita tentang email yang menunjukkan bahwa putra tertua Presiden Donald Trump bertemu dengan pengacara Rusia yang memiliki hubungan dengan Kremlin sebelum pemilu AS November lalu.

Berita baru ini menambah ketidakpastian politik di Washington dan dapat menghambat reformasi pajak dan rencana belanja infrastruktur yang diajukan Trump. ”Indeks Dolar mengalami tekanan jual signifikan di grafik harian sehingga investor bullish akan mencari inspirasi baru untuk mengangkat harga dari testimoni Kongres Janet Yellen hari ini,” kata Lukman.

Yellen dijadwalkan untuk memberi testimoni tentang ekonomi di hadapan Komite Jasa Keuangan Dewan pada hari Rabu. Pernyataannya akan sangat dicermati untuk mencari isyarat kenaikan suku bunga Fed berikutnya. Pasar memperkirakan bahwa Yellen akan kembali mengeluarkan pernyataan hawkish dan prospek optimistis mengenai ekonomi AS, dan ini mungkin tidak cukup untuk mengangkat USD.

Menurutnya, investor bukan hanya perlu informasi baru tentang jadwal kenaikan suku bunga AS berikutnya, namun juga kejelasan tentang waktu dan besar perampingan neraca. Pendapat Yellen tentang penurunan inflasi dan pertumbuhan upah yang lesu serta dampaknya terhadap normalisasi kebijakan moneter Fed akan sangat menarik untuk dicermati.

Soal harga minyak mentah WTI meningkat pada sesi perdagangan hari Selasa mencapai USD45.80 karena laporan bahwa Energy Information Administration (EIA) mengurangi proyeksi produksi 2018 sehingga menjadi celah bagi investor untuk melancarkan aksi ambil untung. ”Kenaikan ini didukung oleh penurunan minyak mentah AS sebanyak hampir tiga kali lipat dari proyeksi dalam satu pekan terakhir, sehingga memicu investor bullish dan sedikit meredakan kekhawatiran tentang oversuplai,” katanya. 

Walaupun Arab Saudi melampaui batas produksi minyak di bulan Juni dengan memproduksi 10.07 juta barel, namun pasar ternyata dapat mengabaikannya. Walaupun minyak dapat semakin menguat di jangka pendek karena spekulasi penurunan produksi AS, namun kenaikan ini mungkin terbatas karena masalah oversuplai yang nyata di pasar minyak. 

Lukman melihat, emas menguat pada sesi perdagangan hari Selasa karena pasar mencari perlindungan setelah adanya berita tentang email yang menunjukkan bahwa putra tertua Presiden Donald Trump bertemu dengan pengacara Rusia yang memiliki hubungan dengan Kremlin sebelum pemilu AS November lalu.

Dolar yang melemah juga mendukung harga logam mulia ini ke zona nyaman di kisaran USD1218. Walaupun logam safe haven ini terlihat tertekan oleh semakin besarnya prospek kebijakan moneter global yang diperketat, kembalinya ketidakpastian dapat mengangkat harga emas di jangka pendek. Dari sudut pandang teknikal, walaupun emas menguat, namun tetap tertekan pada grafik harian.

”Para penjual dapat mengeksploitasi pantulan teknikal saat ini untuk mengantarkan harga lebih rendah dengan membidik level USD1200,” katanya. (wsa)

 

 

 

 

 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%