BI Pertahankan Suku Bunga, Data FDI Jadi Fokus Perhatian

Selasa, 25 Juli 2017 | 19:59
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst ForexTime Lukman Otunuga menilai, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4.75 persen pada bulan Juli adalah untuk mempertahankan stabilitas sistem finansial dan makroekonomi dalam negeri sembari memantau risiko luar negeri. Walaupun fundamental ekonomi Indonesia tetap tampak menjanjikan, BI mungkin terdorong untuk mempertahankan posisi pasif demi menjaga stabilitas ekonomi.


Risiko peristiwa utama untuk Indonesia dan Rupiah pada Selasa adalah rilis laporan Investasi Langsung Asing (FDI) kuartal 2. ”Pasar akan sangat memantau data ini untuk melihat apakah peningkatan peringkat S&P Indonesia menjadi layak investasi memberi pengaruh positif pada investasi asing di kuartal kedua tahun 2017. Kenaikan investasi asing langsung dapat meningkatkan sentimen bullish terhadap ekonomi Indonesia sehingga berdampak positif terhadap Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan,” kata Lukman Otunuga.

Di luar Indonesia, Lukman melihat, perhatian akan tertuju pada keputusan suku bunga Fed yang dapat berpengaruh terhadap Rupiah apabila bank sentral AS ini mempertahankan kecenderungan untuk meningkatkan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat memicu kekhawatiran terjadinya arus keluar modal dari Pasar Berkembang sehingga Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan akan tertekan. 

Pasar finansial diselimuti nuansa kewaspadaan dalam perdagangan pekan ini. Investor bersiap menghadapi pekan yang sangat padat dengan laporan ekonomi penting dan juga sejumlah peristiwa berisiko. 

”Saham Asia bervariasi pada awal perdagangan pekan ini, demikian pula pasar Eropa menjelang hasil rapat OPEC yang sedang berlangsung. Rendahnya harga minyak masih membebani sentimen dan ketidakpastian politik di AS juga merusak selera terhadap aset berisiko sehingga Wall Street terancam melemah hari ini,” katanya.

Menurutnya, harus ada kejutan tak terduga dari rapat OPEC untuk dapat mengembalikan selera pasar. Peningkatan kekhawatiran tentang ketidakstabilan politik di Washington dianggap sebagai potensi pemicu peningkatan permintaan terhadap aset safe haven. 

Agenda utama dan potensi pengguncang pasar pada hari Senin adalah rapat komite OPEC di St. Petersburg, Rusia. Kartel ini dijadwalkan untuk membahas kepatuhan terhadap kesepakatan pengurangan produksi minyak. Masalah oversuplai masih terus menghantam pasar minyak sehingga investor akan mencermati apakah ada diskusi mengenai kenaikan produksi di Nigeria dan Libya.

Rusia sudah meminta OPEC untuk membatasi produksi Nigeria dan Libya dalam waktu dekat dan mari kita lihat apakah ada proposal kesepakatan baru untuk kedua negara ini mengikuti kesepakatan pemangkasan produksi minyak saat ini.

”Harga minyak berpotensi melemah apabila rapat OPEC tidak membawa hal baru. Dari sudut pandang teknikal, minyak mentah WTI tetap tertekan pada grafik harian. Apabila terjadi breakdown di bawah USD45.50 maka dapat terjadi depresiasi lebih lanjut menuju USD44,” terangnya.

 Soal komoditas emas, Lukman menilai bahwa emas meningkat mendekati level tertinggi empat pekan di USD1257 pada hari Senin karena Dolar AS melemah. Investor berhati-hati menjelang pekan yang sangat padat dengan data dan peristiwa sehingga aset safe haven seperti emas mungkin kembali dicari.

Walaupun kenaikan prospek kebijakan moneter global yang lebih ketat masih membatasi logam mulia ini di jangka panjang, namun bulls tetap memegang kendali di jangka pendek. ”Trader teknikal dapat mencermati bagaimana reaksi harga emas terhadap level resistance USD1260 pekan ini. Break di atas USD1260 dapat membuka jalan menuju USD1268,” katanya. (wsa)
 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%