Ketua ALFI : Mogok JICT Akan Ganggu Iklim Investasi

Rabu, 26 Juli 2017 | 19:04
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Kantor JICT di Jakarta Utara. Foto: Ist

INDOPOS.CO.ID-Rencana mogok kerja karyawan  Jakarta International Container Terminal (JICT) tanggal 3-10 Agustus 2017 ditanggapi oleh Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI). Menurutnya , mogok hanya akan merugikan pekerja sendiri dan JICT. 

“JICT hanya salah satu pintu gerbang Indonesia, menyikapi (rencana mogok ) itu kami sudah berkoordinasi dengan shippingline untuk memindahkan ke pelabuhan lain,” ujar Yukki. “Memang akan ada penumpukan, tetapi tidak masalah karena tidak ada pilihan lain,” lanjutnya. 

Tanggapan Yukki tersebut terkait dengan surat yang diberikan oleh Serikat Pekerja JICT kepada JICT tentang rencana mogok kerja tanggal 3-10 Agustus 2017. Mogok tersebut bukanlah upaya yang pertama kali dilakukan karyawan JICT. Sebelumnya juga muncul rencana mogok pada tanggal 9 Mei 2017. Namun hal tersebut dibatalkan setelah ada kesepakatan antara Direksi dan Serikat Pekerja JICT. 

Salah satu faktor penyebab mogok tersebut karena bonus yang diterima karyawan pada tahun 2016 menurun sebesar 42,5 persen dibandingkan bonus pada tahun 2015. Penurunan tersebut terjadi karena Profit Before Tax (PBT) JICT menurun dari USD 66,335 juta pada tahun 2015 menjadi USD 44,198 juta tahun 2016. 

“Mogok di pelabuhan dapat mengganggu mengganggu iklim investasi di Indonesia,” ujar Yukki. “Mogok memang hak pekerja tetapi sebaiknya pelayanan tetap jalan,” imbuhnya. 

Menurut Yukki,apabila pelayanan tetap jalan, shippingline dapat tetap masuk dan bongkar muat di JICT. Hal tersebut akan membuat para pelaku industri menjadi lebih tenang dan yakin terhadap kondisi di Indonesia. 

Pekerja pelabuhan yang mogok tidak hanya berdampak pada operator semata. Tetapi karena satu pelabuhan berhenti beroperasi sementara maka diperlukan koordinasi dari berbagai shipping line untuk mengalihkan pelayanan selama masa mogok.

Hal tersebut yang berpotensi menimbulkan nuansa ketidakpastian bagi shippingline dan pelaku logistik tidak hanya dari eskportir tetapi juga importir. Ujungnya mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Apabila mogok terjadi, sebenarnya JICT dan pekerja sendiri akan mengalami kerugian karena tidak melayani shippingline,” tegas Yukki. “Ada beberapa pelabuhan lain yang masih terus beroperasi di Priok sehingga tetap ada alternatif lain,” imbuhnya. 

Lebih lanjut Yukki menjelaskan, permasalahan yang menjadi penyebab mogok bukanlah permasalahan lama dan sudah dipahami oleh banyak orang. Bahkan menurutnya Menteri Perhubungan, Otoritas Pelabuhan juga sudah memberikan perhatian serius terhadap permasalahan mogok pekerja. “Sebaiknya permasalahan ini dijauhkan dari kepentingan politik,” tutup Yukki. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%