Pengamat Ini yakin Ekonomi Indonesia Stabil di Angka 5 Persen pada Q2

Selasa, 08 Agustus 2017 | 21:00
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst FXTM Lukman Otunuga yakin, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh dengan laju lebih lambat dari ekspektasi pada kuartal kedua 2017. Konsumsi swasta tetap lambat, dan harga komoditas yang rendah berdampak negatif pada ekonomi.

”BPS melaporkan di hari Senin bahwa PDB Indonesia meningkat 5.01persen pada April-Juni, sehingga pasar kecewa karena pertumbuhan tidak berubah dari kuartal pertama. Meskipun konsumsi swasta yang berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB Indonesia tumbuh sedikit lebih cepat pada Q2 dengan laju 4.95 persen, namun ini tetap lebih lambat dibandingkan satu tahun lalu,” kata Lukman Otunuga.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi stagnan pada kuartal kedua sehingga spekulasi sepertinya akan meningkat mengenai kemungkinan Bank Indonesia kembali mengadopsi kecenderungan melakukan pelonggaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia menutup sesi perdagangan hari Senin di area merah karena data pertumbuhan yang tidak bergairah. Rupiah juga sedikit melemah terhadap Dolar AS. 


”Perhatian investor akan tertuju pada laporan keyakinan konsumen yang dijadwalkan untuk dirilis pada hari Selasa dan diharapkan dapat memberi gambaran lebih lanjut tentang kondisi ekonomi negara ini. Peningkatan keyakinan konsumen bulan Juli yang melampaui ekspektasi dapat mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan pada sesi hari Selasa,” paparnya.

Lukman juga melihat, USD meningkat tajam pada Jumat pekan lalu karena berita bahwa lapangan kerja di Amerika Serikat bertambah 209k pada bulan Juli. Laporan tenaga kerja yang secara umum positif ini menyoroti kuatnya pondasi pasar tenaga kerja AS. Karena data NFP umum melampaui ekspektasi, rata-rata upah meningkat 0.3 persen, dan tingkat pengangguran turun 4.3 persen, maka Dolar pun terdorong naik.

”Mata uang AS ini dapat semakin menguat apabila data ekonomi AS menunjukkan tren positif bulan ini dan masalah politik di Washington mulai reda. Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar tetap bearish pada grafik harian karena secara konsisten terdapat level terendah yang lebih rendah dan level tertinggi yang lebih rendah. Breakdown di bawah 93.00 dapat membuka jalan menuju 92.00,” katanya.


Menurutnya, emas kembali mengalami tekanan jual setelah rilis NFP Juli yang positif mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga AS lagi di tahun 2017. Menguatnya Dolar semakin memperburuk penurunan harga emas yang bergerak menuju $1256 pada sesi perdagangan hari Senin. Walaupun penghindaran risiko karena masalah politik di Washington dan polemik Brexit dapat mendorong selera terhadap komoditas safe haven di jangka yang lebih panjang, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga terus menekan harga emas.

”Dari sudut pandang teknikal, bulls berisiko kehilangan kendali terhadap emas apabila harga stabil di bawah level USD1260. Penurunan berulang kali di bawah USD1260 dapat menyebabkan depresiasi lebih lanjut menuju USD1240,” katanya.

Pound, kata Lukman, terekspos pada penurunan tajam pekan lalu. Kurs GBP tergelincir mendekati 1.3000 setelah BoE memberi pandangan dovish. ”Masalah Brexit sangat membebani mata uang ini dan data ekonomi yang tidak bergairah membuat bears berulang kali mengadakan aksi jual besar-besaran. Dari sudut pandang teknikal, mata uang ini mengalami tekanan jual besar pada grafik harian. Breakdown di bawah 1.3000 dapat membuka jalan menuju 1.2850,” katanya. (wsa)
 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%