Kejutan BI Itu Bernama Pemangkasan Suku Bunga

Rabu, 23 Agustus 2017 | 21:03
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Investor benar-benar tak menduga bahwa pada hari Selasa ini Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Oktober 2016 demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

BI memangkas suku bunga repo tujuh hari dari 4.75 persen menjadi 4.5 persen karena rendahnya konsumsi swasta memengaruhi sentimen dan pertumbuhan ekonomi. ”Rupiah sangat melemah terhadap Dolar di hari Selasa pasca kejutan keputusan suku bunga ini. USDIDR bergerak mendekati 13350,” papar Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM.

Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama di hari Selasa saat perhatian investor tertuju pada rapat para tokoh keuangan di Simposium Jackson Hole pada tanggal 24-26 Agustus.

USD berupaya mencari arah bulan ini dan harga bergerak dalam rentang yang luas karena pasar menghadapi berbagai isu. Ketidakpastian agenda ekonomi Presiden AS Donald Trump terus menekan mata uang ini dan kekhawatiran terkait inflasi rendah di AS sangat mengganggu prospek kenaikan suku bunga AS. Walaupun Indeks Dolar sedikit menguat di hari Selasa, bulls tampak semakin kelelahan dan mungkin mengandalkan pernyataan Yellen sebagai inspirasi baru dalam memperkuat kurs.

”Pasar akan sangat memperhatikan pidato Yellen di Jackson Hole hari Jumat ini dan mencermati apakah ada komentar terkait kebijakan moneter. Informasi baru dari Yellen terkait kebijakan terutama kapan Fed berencana untuk merampingkan neraca dan meningkatkan suku bunga AS tahun ini dapat memperkuat kurs Dolar,” papar Lukman.

Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar tetap tertekan di grafik harian. Secara konsisten ditemukan level terendah yang lebih rendah dan level tertinggi yang lebih rendah sementara harga berada di bawah 20 SMA harian.  Nilai yang terus lemah di bawah 94.00 dapat mendorong depresiasi lebih lanjut menuju 92.50.

Minyak mentah WTI kesulitan untuk mempertahankan peningkatan di hari Selasa dan harga akhirnya melemah menuju USD47.50 karena masalah oversuplai masih terus membebani sentimen.

”Ini adalah periode yang menarik untuk pasar minyak karena komoditas ini terjebak dalam tarik-menarik sengit karena berita yang berlawanan efeknya untuk bulls dan bears. Walaupun optimisme OPEC tentang kesepakatan pemangkasan produksi memberi dorongan spekulatif pada harga minyak, kurangnya kepatuhan terhadap kesepakatan ini di bulan Juli dan peningkatan produksi mencapai level tertinggi 2017 di bulan yang sama menarik perhatian bears. Tarik-menarik ini mungkin berakhir dengan aksi harga bearish untuk minyak yang menyiratkan bahwa investor semakin skeptis pada kemampuan OPEC untuk menyeimbangkan kembali pasar minyak,” kata Lukman lagi. 

Sentimen terhadap minyak tetap bearish di tengah masalah oversuplai dan kemungkinan bubarnya kesepakatan pemangkasan produksi OPEC apabila harga minyak gagal memantul dapat memperburuk sentimen investor. Dari sudut pandang teknikal, minyak mentah WTI telah menyentuh di bawah USD48 dan USD46.50 adalah level incaran penting berikutnya.

Emas tampak jelas mengalami tekanan di hari Selasa dan harga merosot menuju USD1283 dengan stabilnya Dolar. Terlepas dari penurunan jangka pendek yang terjadi, logam mulia ini tetap sangat terdukung oleh risiko geopolitik dan drama politik di Washington. Nuansa waspada masih terasa menjelang konferensi Jackson Hole pekan ini dan hal ini dapat memperkuat bulls emas.

”Dari sudut pandang teknikal, emas sangat bullish pada grafik harian karena secara konsisten level tertinggi yang lebih tinggi dan level terendah yang lebih tinggi. Bulls masih memegang kendali di atas support USD1283 dan apabila harga melintas di atas USD1293 maka dapat terbuka jalan menuju USD1300. Di skenario alternatif, penurunan berkelanjutan di bawah USD1283 dapat membuka jalan menuju USD1270. (wsa)

 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%