BJB Jajakan Obligasi Rp 4,5 Triliun

Senin, 28 Agustus 2017 | 23:07
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-Bank Jawa Barat-Banten (BJBR) bakal menggelar penawaran umum berkelanjutan (PUN) dengan target dana indikatif Rp 4,5 triliun. Tahap pertama akan menerbitkan obligasi senilai Rp 2,5 triliun. Surat utang itu terdiri dari obligasi subordinasi atau subdebt Rp 1 triliun dan surat utang konvensional Rp 1,5 triliun.

”Kemungkinan meluncur lebih perdana subdebt. Underwriternya juga sudah kami tentukan,” tutur Direktur Utama BJB, Ahmad Irfan.

Irfan melanjutkan, penerbitan obligasi itu untuk memperkuat struktur modal. Itu seiring langkah perusahaan menekan tingkat loan to funding ratio (LFR) hingga di bawah 80 persen. ”Kami harap akhir September obligasi sudah menyapa pasar,” tegasnya.

Sekretaris Perusahan BJB M As'adi Budiman menambahkan surat utang itu nanti mempunyai tenor 3 tahun, 5 tahun dan 7 tahun.  Adapun untuk kupon, surat utang itu bakal dibandrol bunga di kisaran 7,5 persen hingga 8 persen. Dana hasil obligasi bakal dipakai untuk memperkuat ekspansi kredit sekaligus mendiversifikasi struktur pendanaan jangka pendek.

Apalagi pada akhir tahun lalu, perusahaan mengalami kekeringan (ketat) likuiditas. Efeknya, perusahaan banyak melakukan belanja dana mahal supaya likuiditas lebih longgar. ”Aksi korporasi itu telah mendapat izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Irfan.

Pada kuartal dua tahun ini, total dana pihak ketiga (DPK) perusahaan meningkat 15,6 persen (yoy) menjadi Rp 85,4 triliun. Total aset tembus Rp 108,6 triliun atau tumbuh 11,7 persen. Kemudian kredit menanjak 12,9 persen menjadi Rp 68,2 triliun.

Perseroan sukses menekan rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 1,57 persen, lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu 2,02 persen. ”Laba bersih kami tercatat Rp 829 miliar,” ulas Irfan.

Tahun ini perusahaan mematok pertumbuhan kredit 13 persen. Secara umum, seluruh proyeksi masih sejalan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2017. Apalagi, perusahaan berhasil memperkuat segmen kredit mikro yang tumbuh 28 persen dari tahun lalu. Sukses itu berkat perusahaan memakai jaringan linkage Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan juga melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Hasil perusahaan itu tergolong anomali. Karena saat bersamaan, lembaga perbankan lain justru mengurangi penyaluran kredit mikro menyusul rasio kredit bermasalah sangat tinggi.

Perusahaan bilang Irfan, juga mempunyai program pemberdayaan masyakat ekonomi terpadu. Itu penting sebagai salah satu sarana mendongkrak kualitas sektor usaha mikro. Itu juga membuat kualitas penyaluran kredit mikro perusahaan tetap terjaga. ”Prinsip prudentialitas tetap menjadi prinsip kami,” urainya. (far)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%