Suku Bunga Dipangkas, Rupiah Stabil

Selasa, 29 Agustus 2017 | 12:16
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-VP of Market Research FXTM Jameel Ahmad menilai, walaupun Bank Indonesia memberi kejutan kepada pasar dengan memangkas suku bunga pekan lalu, Rupiah tetap stabil dan tidak mengalami momentum jual.  Rupiah bahkan tampak sedikit menguat pada awal pekan perdagangan.

USDIDR melemah 0.05 persen pada saat laporan ini dituliskan. Walaupun sentimen yang melemah terhadap USD memperkuat sebagian besar mata uang terhadap Dolar, namun ada optimisme dari investor bahwa pemangkasan suku bunga lagi di Indonesia tidak akan memberi dampak negatif terhadap Rupiah.

Prospek inflasi di Indonesia tetap rendah, konsensus mengatakan bahwa Bank Indonesia menggunakan inflasi rendah sebagai peluang untuk menetapkan suku bunga pinjaman yang lebih rendah. ”Enam kali pemangkasan suku bunga BI tahun lalu belum memberikan dampak yang diharapkan terhadap data ekonomi dan dengan melanjutkan siklus pelonggaran ekonomi, ada harapan bahwa suku bunga yang lebih rendah lagi akan membantu mengangkat ekonomi domestik,” kata Jameel Ahmad.

Harga emas sedikit menguat pada perdagangan hari Senin dan sepertinya para pembeli Emas kembali mencoba untuk melampaui level psikologis USD1300. Data dari Commodity Futures Trading Commission menunjukkan bahwa trader terus menambahkan posisi long pada aset yang menghasilkan, walaupun saya meyakini bahwa politik Amerika Serikat akan memegang peran penting dalam pergerakan emas berikutnya.

”Pagu utang maksimum dan kesepakatan NAFTA adalah faktor yang perlu dicermati. Apabila emas mendapat momentum dan berhasil menutup perdagangan pekan ini di atas USD1300, saya memprediksi bahwa komoditas ini akan terus menguat dan berpotensi menguji level tertinggi 2016 di kisaran USD1375,” kata Jameel. 

Sebagian besar berita setelah konferensi Jackson Hole tertuju pada Euro dan mata uang ini terus menguat ke level tertinggi 2,5 tahun mendekati level psikologis penting 1.20. Euro telah mengalami apresiasi lebih dari 13.4 persen sejak awal tahun, dan banyak trader yang terhenyak karena Presiden ECB Mario Draghi tidak berkomentar tentang menguatnya Euro baru-baru ini di Jackson Hole. Dengan tidak berkomentar tentang momentum beli Euro, Draghi memberi peluang pada investor untuk terus menambah posisi beli.

Sementara itu, trader juga menggunakan konferensi Jackson Hole sebagai peluang untuk menjual Dolar karena Ketua Dewan Gubernur Fed Janet Yellen tidak memberi isyarat mengenai kebijakan suku bunga AS. Investor menggunakan segala peluang untuk menjual Dolar, dan indikasi terbaru bahwa Fed mungkin menghentikan sementara siklus peningkatan suku bunga AS menjadi salah satu peluang baru untuk melepas Dolar.  Investor membutuhkan petunjuk baru mengenai kebijakan moneter agar Dolar dapat bangkit dari level saat ini.

Menurut Jameel, ada spekulasi bahwa Badai Harvey di AS dapat menjadi peluang bagi investor untuk membeli minyak karena berita bahwa kilang-kilang minyak akan dihentikan. Walaupun bagi trader ini berarti oversuplai di pasar akan berkurang, menurut saya dampaknya pada harga minyak hanya akan berjangka pendek.

”Trader harus berhati-hati sebelum menyambut apa yang mungkin terlihat sebagai potensi peluang beli secara umum, karena pasar minyak dapat merosot dengan sangat tiba-tiba jika berita ini tidak berhasil membuat oversuplai berkurang di pasar,” saran Jameel. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%