Rupiah Tidak Terpengaruh Misil Korea Utara

Rabu, 30 Agustus 2017 | 12:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
TETAP BERTAHAN: Rupiah masih belum terpengaruh dengan pergerakan Dolar. Foto: jawapos

INDOPOS.CO.ID-VP of Market Research FXTM Jameel Ahmad melihat, Rupiah berhasil bertahan terhadap Dolar di pertengahan hari Pasar Eropa Selasa ini walaupun pagi ini Korea Utara meluncurkan misil ke Jepang. 

Perkembangan berita misil Korea Utara ini mengakibatkan penurunan pasar saham dan reli instrumen safe haven seperti emas dan Yen, tapi pasar tidak mengalami aksi jual berlebihan. Sedikit penghindaran risiko terjadi dengan menurunnya momentum beli mata uang negara maju dengan yield tinggi seperti Dolar Australia.

Mata uang pasar berkembang dengan yield tinggi seperti Rand Afrika Selatan dan Lira Turki juga melemah. Sejujurnya, mayoritas investor sudah memperhitungkan perkembangan Korea Utara saat ini dan reaksi pasar berikutnya akan ditentukan oleh komentar dari Presiden Trump jika ada. Inilah yang perlu dipantau investor.  

”Ada atau tidaknya penghindaran risiko global akan sangat ditentukan oleh tanggapan Amerika Serikat terhadap peluncuran misil Korea Utara ke wilayah Jepang. Gedung Putih belum mengeluarkan tanggapan resmi pada saat laporan ini dituliskan. Jika Trump memutuskan untuk menindaklanjuti masalah ini dan mengisyaratkan kemungkinan serangan, maka situasi akan menjadi kacau dan investor akan panik,” kata Jameel Ahmad. 

Di sisi lain, Jameel melihat, emas diuntungkan oleh ketegangan peluncuran misil Korea Utara dan saat ini melampaui USD1320 untuk pertama kalinya sejak November 2016. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar peningkatan harga emas di awal hari ini terjadi sebelum Korut meluncurkan misil.

”Ini berarti ada sejumlah faktor lainnya yang memperkuat emas. Faktor ini antara lain ketidakpastian reformasi Presiden Trump, termasuk ketidakpastian baru terkait penggantian Janet Yellen pada akhir masa jabatannya sebagai Ketua Dewan Gubernur Fed dengan tokoh yang memiliki visi yang lebih selaras dengan Trump berkaitan dengan deregulasi keuangan,” katanya. 


”Setelah emas berhasil melampaui USD1300, saya perkirakan momentum beli akan meningkat tajam dan investor mungkin bahkan akan membidik potensi untuk menguji level tertinggi 2016 di kisaran USD1375,” imbuhnya.

Menurutnya, terlepas dari kenaikan emas yang tiba-tiba, masih banyak alasan lainnya untuk terus optimis terhadap logam mulia ini. Ketidakpastian tentang kebijakan suku bunga AS, ketegangan geopolitik, batas atas utang, ancaman untuk membubarkan NAFTA, dan rendahnya kepercayaan terhadap kemampuan Presiden Trump untuk melaksanakan janjinya terkait reformasi legislatif dapat dianggap sebagai potensi pemicu bagi investor untuk terus memegang posisi emas. 


Setelah memberi sinyal ’beli’ yang jelas kepada pasar pada awal Agustus saat USD/Yuan tanpa terduga tergelincir ke level psikologis 6.70, mata uang China ini mengalami tekanan beli yang luar biasa. Terlepas dari perkembangan bulan ini, saya tetap berpendapat bahwa masih ada ruang untuk apresiasi kurs Yuan. 

”Jika kita bandingkan Yuan dengan sekeranjang mata uang lainnya, dalam hal kinerja sejak awal tahun terhadap Dolar, kita akan melihat bahwa Yuan baru menguat sekitar 5 persen terhadap Dolar di 2017. Euro, Dolar Australia, dan Yen Jepang juga telah menguat lebih hebat terhadap Dolar dan saya berpendapat bahwa Yuan perlu mengikuti kekuatan yang terlihat di sejumlah mata uang utama ini. Ini adalah satu faktor mengapa saya tetap bullish terhadap Yuan, dan fakta bahwa pasar masih sangat negatif terhadap Dolar mendukung pandangan saya ini,” kata Jameel. (wsa) 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%