Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya

Rabu, 06 September 2017 | 19:47
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Sebagian besar mata uang Asia menguat di hari Selasa karena selera risiko sedikit membaik satu hari setelah sentimen global sangat terganggu oleh tekanan geopolitik. Rupiah menguat terhadap Dolar mendekati 1.3335 saat investor semakin memahami inflasi Agustus yang mencapai -0.07 MoM karena penurunan harga pangan.

”Walaupun harga konsumen Indonesia memasuki deflasi secara MoM, namun perlu diingat bahwa laju inflasi tahunan sebesar 3.82% masih berada dalam target tahunan Bank Indonesia yaitu 3-5 persen. Indeks Harga Saham Gabungan juga terangkat oleh meningkatnya selera risiko. IHSG naik 0.28 persen dan ditutup di level 5829.979,” kata Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.

Lukman melihat, perhatian investor tampaknya akan tertuju pada rilis indeks keyakinan konsumen Indonesia pada hari Kamis yang akan memberi gambaran lebih jauh tentang perekonomian negara ini. ”Peningkatan keyakinan konsumen dapat semakin memperkuat IHSG dan Rupiah,” katanya.

Tentang Pound bearish pada sesi perdagangan hari Selasa, Lukman mengatakan, hal itu karena pertumbuhan sektor jasa yang berkontribusi lebih dari 75 persen pada PDB Inggris melambat di bulan Agustus. PMI Jasa Inggris Raya berada di bawah ekspektasi pasar 53.2, merosot ke level terendah 11 bulan dan semakin menyoroti bahwa ketidakpastian Brexit tetap sangat membebani sektor jasa.

“Perlambatan sektor jasa memperburuk situasi Pound seperti serangkaian data mengecewakan dalam sebulan belakangan. Karena itu, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Inggris oleh Bank of England sepertinya akan semakin menipis. Sentimen akan tetap bearish terhadap Pound dan diperkirakan semakin memburuk karena fundamental ekonomi yang lemah dan ketidakpastian negosiasi Brexit menekan mata uang ini,” kata Lukman.

Pasar saham Asia tertekan selama dua hari berturut-turut di hari Selasa. Kegelisahan masih terasa di sejumlah kelas aset pasar uji nuklir Korea Utara di hari Minggu. Arus dana terus mengalir ke Yen Jepang dan Franc Swiss. Saham Eropa melemah di hari Senin namun tidak signifikan. ”FTSE 100, CAC, dan DAX ditutup lebih rendah di bawah 0.4 persen saja. Obligasi Eropa dan AS diuntungkan oleh situasi ini, tapi penurunan yield tidak signifikan,” katanya. 

Lukman mengatakan, pasar AS akan kembali aktif setelah libur Hari Buruh, dan futures saham mengindikasikan aksi jual ringan. Pidato dari pejabat FOMC Lael Brainard dan Neel Kashkari sepertinya akan menggerakkan USD karena pasar membutuhkan jawaban seputar jadwal perampingan neraca Fed dan apakah Fed masih berencana mengadakan kenaikan suku bunga lagi di tahun 2017.

Harga emas melemah menuju USD1230 pada awal perdagangan karena aksi ambil untung para pembeli. ”Terlepas dari penurunan jangka pendek ini, emas tetap sangat bullish di grafik harian dan diperkirakan akan terus menguat karena ketidakpastian dunia saat ini. Ketegangan geopolitik, Brexit, dan ketidakstabilan politik di Washington tampaknya akan terus menguntungkan logam mulia ini. Trader teknikal akan sangat memperhatikan reaksi harga terhadap resistance USD1340 danbreakout akan membuka jalan menuju USD1350,” kata Lukman. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%