Penerbitan Buku Topang Ekonomi Nasional

Kontribusi Rp 53,59 Triliun atau 6,29 Persen dari Total PDB Ekonomi Kreatif

Senin, 11 September 2017 | 21:42
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
SUMBER ILMU: Pengunjung memilih-milih beragam buku koleksi nasional maupun internasional di Indonesia International Book Fair.

INDOPOS.CO.ID - INDONESIA International Book Fair (IIBF) kembali hadir. Pameran berskala global itu digagas Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan didukung penuh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Hajatan edisi ke-37 itu berlangsung antara 6-10 September 2017 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC).

Seiring perubahan waktu dan kemajuan teknologi, aktivitas berlangsung secara online. Platform digital telah mengubah pola dan gaya hidup (lifestyle) masyarakat. Kondisi itu telah mengubah paradigma dan menganggap pertemuan secara fisik tidak diperlukan. Sebagai sebuah argumentasi, opini semacam itu akan terus berlangsung. ”Namun, ajang pameran tidak pernah sepi peminat. Bahkan, peserta datang dari belahan negara lain,” tutur Ketua Umum Ikapi, Rosidayati Rozalina.

Ada banyak aspek sebagai dasar pameran buku. Aspek bisnis, pameran tidak sekadar jual-beli buku tapi juga pusat kegiatan promosi dan transaksi. Terutama bagi penerbit, penulis, aktivis literasi dan pelaku industri kreatif. Sebagai bisnis berbasis kepercayaan, maka kontak fisik menjadi keniscayaan. ”Ajang silaturrahmi ini tidak bisa digantikan secara digital,” ucapnya.

Di samping itu, pameran buku menawarkan kesempatan berdiskusi melalui seminar dan pelatihan. Juga menyediakan kesempatan penerbit menjadi asa baru kepada pengarang. Peluang itu berupa ekspos kepada pengunjung internasional dan liputan media. ”Penerbit dan pengarang bisa bersinergi,” jelas Rosidayati.

Hal senada diungkap Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Ricky Joseph Pesik. Ia berpendapat tantangan terbesar mengubah paradigma lama untuk mempertahankan eksistensi pameran. Tidak disangkal orang akan tetap mencari buku untuk membaca, tetapi pasar buku akan berubah. ”Aspek pemasaran dan konten buku harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Artinya, pelaku industri buku harus kreatif,” ungkap Ricky.

Ricky melanjutkan, industri penerbitan masuk salah satu dalam 16 subsektor ekonomi kreatif. Dari 16 subsektor itu, penerbitan menempati peringkat lima dengan kontribusi Rp 53,59 triliun atau 6,29 persen dari total kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif. ”Jadi, akselerasi ekonomi kreatif harus dikebut,” imbuhnya.

Karena itu, harus dilakukan penguatan eko sistem industri. Butuh paradigma baru dalam tata kelola. Tidak bisa hanya mengandalkan pola lawas yang sudah jauh ketinggalan zaman. ”Inilah pentingnya kolaborasi dan sinergi baik itu pengarang, penerbit dan pemangku kepentingan dalam industri kreatif,” ucapnya.

Pada gelaran kali ini, para pecinta buku informasi, hiburan dan pengetahuan bisa berbondong-bondong berburu promo aneka buku dengan potongan harga hingga 70 persen. Kortingan itu bisa didapat dari sejumlah negara peserta macam Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, China, Korea, Jepang, Jerman, Perancis, Belanda, Bosnia, India, Mesir, Arab Saudi, dan Inggris.

Selain itu, pengunjung juga dimanja dengan sejumlah talkshow dari beberapa tokoh seperti Najwa Shihab, Pidi Baiq, dan Ernest Prakarsa. Tidak melulu buku, pameran juga menyajikan produk kebudayaan lain seperti musik, film, animasi, feshion, dan kuliner.(far)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%