ANALISA

Emas Berpotensi Menguat di Jangka Panjang

Rabu, 13 September 2017 | 08:28
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI. Foto: marketwatch

INDOPOS.CO.ID-Rupiah menguat tajam terhadap Dolar di hari Senin meskipun penjualan ritel Juli merosot 3,3 persen dibandingkan satu tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ritel yang drastis ini adalah kontraksi pertama dalam hampir enam tahun terakhir dan dapat memicu kekhawatiran tentang penurunan konsumsi di Indonesia tahun ini.

”Walau sentimen terhadap Indonesia mungkin memburuk di jangka pendek karena penjualan yang melemah, prospek ekonomi secara umum tetap menjanjikan dan pasar memantau apakah target pertumbuhan PDB 5,2 persen akan tercapai di tahun 2017. Dari sisi teknikal, USDIDR menghadapi tekanan jual yang signifikan pada grafik harian. Breakdown di bawah 13200 dapat membuka jalan menuju 13070,” kata Research Analyst ForexTime Lukman Otunuga.


Emas melemah di hari Senin namun karena Dolar masih rentan menurun, emas tetap berpotensi menguat di jangka panjang. Selera risiko mulai bangkit sehingga emas meredup di hari Senin setelah mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir pada sesi sebelumnya. 

”Pasar yang bersiap jika Korea Utara meluncurkan misil lagi di akhir pekan untuk merayakan hari pendirian negara tersebut dapat bernapas lega karena Pyongyang memutuskan untuk tidak mengambil langkah itu. Situasi ini memulihkan selera atas aset berisiko dan memperkuat USD, sementara aset safe haven seperti emas melemah. Emas mungkin semakin melemah dalam situasi risk on saat ini, penurunan ini mungkin terbatas karena pasar tetap berhati-hati,” kata Lukman.

Dolar masih rentan melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember merosot tajam, jadi harga emas sepertinya akan tetap terangkat. Emas tetap berpotensi menguat, terutama meninjau ketidakpastian politik di Washington, ketegangan geopolitik, dan Brexit yang membuat pasar terus mencari aman. 

”Dari sudut pandang teknis, bulls masih tetap berkuasa walaupun harga emas menurun drastis akhir pekan kemarin.  Breakout di atas USD1340 dapat membuka jalan menuju kenaikan yang lebih besar lagi ke arah USD1350. Di skenario alternatif, breakdown dan penurunan berulang kali di bawah USD1325 berpotensi mendorong penurunan lebih lanjut menuju USD1315 kemudian USD1300,” katanya.

Tentang ekspektasi kenaikan suku bunga Fed di bulan Desember yang menurun drastis terus menciptakan sentimen bearish terhadap Dolar, Lukman menilai, walaupun Dolar menguat pada sesi perdagangan hari Senin karena Korea Utara tidak meluncurkan uji misil di akhir pekan, tapi kenaikan ini sepertinya akan terbatas.

”Kekhawatiran akan inflasi rendah membangkitkan doves di Fed dan sangat mengganggu prospek kenaikan suku bunga AS sehingga Dolar berpotensi terus melemah.  Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar tetap tertekan di grafik harian. Nilai yang terus lemah di bawah 92.00 dapat mendorong depresiasi lebih lanjut menuju 90.00,” terang Lukman.


EURUSD merosot di bawah USD1.20 pada awal perdagangan hari Senin setelah Anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Benoit Coeure memperingatkan bahwa kejutan kurs yang terjadi berulang kali dapat mengganggu inflasi Eropa.

”Terlepas dari penurunan jangka pendek ini, EURUSD tetap sangat bullish di grafik harian dan diperkirakan akan terus menguat karena ekspektasi pengurangan program Pelonggaran Kuantitatif ECB. Breakout di atas 1.2040 dapat membuka jalan menuju 1.2100,” katanya. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%