Bebas Sewa, Food Truck Jadi Idola

Kamis, 14 September 2017 | 14:43
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Bisnis kuliner di Indonesia berkembang. Tak hanya diwarnai dengan kemasan yang menarik, serta beragam franchise yang telah memasuki wilayah kaki lima.  Pemain kuliner pun mulai beralih dari menggunakan kios, warung menjadi food truck.

Kendaraan besar yang dilengkapi perabotan dan peralatan memasak dan menjual makanan ini mulai menjamur dan mendapat tempat seiring dengan mengeliatnya event.  ”Sudah empat tahun ini food truck berkembang  di Jakarta,” ujar Thomi salah satu Cheef Food Truck saat ditemui di kawasan Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (13/9).

Menjual makanan di atas mobil sudah jauh dikenal Negeri Paman Sam pada 1800-an. Namun diera itu food truck hanya sebuah kereta kuda yang diisi dengan makanan kalengan, minuman, hingga daging yang diawetkan untuk dihidangkan kepada para pekerja penggembala.

Kini, food truck menjadi alternatif tempat makan siang pekerja di Amerika untuk menyiasati waktu istirahat yang terbatas termasuk di Indonesia. Konsep food truck di Indonesia mulai booming pada 2013, ”Pelopornya adalah komunitas Jakarta Food Truck atau dikenal JFT,” katanya.  

Tak hanya di Jakarta, pemain kuliner di bidang food truck pun terus mewabah di sejumlah kota-kota besar  seperti Yogya, Bali, Malang, Surabaya, Solo dan beberapa kota besar lainnya. Berkembangnya event dan minimnya modal untuk menyewa ruko menjadi salah satu pertimbanganya.

”Menjalankan bisnis food truck terbilang lebih murah dibandingkan menyewa ruko atau tempat di pusat perbelanjaan.

Jika dihitung secara kasar untuk harga sewa ruko di Jakarta saat ini mencapai Rp 150 juta per tahun dan umumnya minimal lama sewa adalah 2 tahun. ”Tentunya cost yang dikeluarkan pun semakin besar, belum termasuk dengan dekorasi dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis makanan,” jelasnya.

Meski demikian, butuh budget besar untuk membuat food truck. Terutama pengadaan mobil serta peralatan masak portabel yang bisa masuk ke dalam mobil. “Biasanya kalau menggunakan bus ukuran medium serta peralatan lengkap seperti pendingin, penggorengan, pemanggang, dan pemanas modal yang diperlukan bisa mencapai Rp 1 miliar,” terangnya.

Menjadi cukup mahal lantaran saat itu karoseri untuk membuat food truck belum ada. Mungkin saja sekarang modal yang diperlukan tak sebanyak JFT. Ia mengatakan demikian lantaran food truck di Indonesia tak melulu menggunakan mobil besar seperti di luar negeri. Ada beberapa pengusaha menyulap mobil pikap bahkan minibus klasik seperti VW Combi. Jadi jika diklasifikasi dalam ukuran, food truck di Indonesia paling besar bus ukuran medium, microbus, dan mobil pikap.

Tenaga listrik untuk peralatan memasak untuk sekarang biasanya dipasok oleh penyelenggara event. Namun, tak jarang pula mereka menggunakan genset sebagai cadangan. “Kita ‘kan enggak tahu apa yang akan terjadi. Pelanggan mesti tetap dilayani,” ujarnya.

Mengenai kelebihan dan kekurangan berjualan makanan di atas mobil, Thomi mengatakan, kelebihannya adalah bisa menjangkau konsumen di daerah-daerah yang cukup jauh. “Kebetulan kami pernah menjadi penghuni tetap di salah satu mal dan pada event-event tertentu saja jalan. Baru kemudian sepenuhnya mobile seperti sekarang,” ungkapnya.

Kesulitan mobile kitchen adalah masalah persiapan. Baik saat membuka dan setelah tutup. “Barang yang dibawa pun pasti berbeda,” terangnya.

Tentu saja jika mobile selain membawa peralatan masak juga bahan makanan untuk hidangan. Belum lagi meja dan kursi untuk konsumen mereka. “Kalau menetap kami biasanya tinggal drop bahan baku saja ke truck untuk persiapannya,” ujarnya. (fch)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%