Dampak Pemangkasan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah

Selasa, 26 September 2017 | 11:14
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
KABAR KURANG BAIK: Rupiah melemah terhadap dolar. Foto: toni suhartono/indopos

INDOPOS.CO.ID-Pasar finansial benar-benar dikejutkan pada hari Jumat setelah Bank Indonesia tanpa diduga memangkas suku bunga acuan utama untuk bulan kedua berturut-turut di bulan September. BI memangkas suku bunga 7-day repo sebesar 25 basis poin menjadi 4.25  untuk mendorong pertumbuhan kredit dan konsumsi.

Langkah mengejutkan dari BI juga menunjukkan keyakinan BI dalam mempersiapkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat dan mengatasi inflasi domestik. Rupiah melemah terhadap Dolar di hari Jumat pasca pemangkasan suku bunga dan ini berlanjut di sesi perdagangan hari Senin.

”Spekulasi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember memperkuat Dolar sehingga mata uang pasar berkembang termasuk Rupiah berpotensi melemah. Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana perilaku USDIDR di atas level 13300. Dolar yang menguat akan mendorong pasangan mata uang ini menuju 13350,” kata Research Analyst ForexTime Lukman Otunuga.

Minyak mentah WTI stabil di atas USD50.50 pada sesi perdagangan hari Senin karena optimisme bahwa strategi OPEC untuk memangkas produksi minyak sebesar 1.8 juta barel per hari akan mampu menyeimbangkan pasar. Rapat OPEC pekan lalu telah memberi inspirasi baru bagi bullsdan ini terefleksikan pada aksi harga minyak saat ini.

Walaupun komoditas ini mungkin menguat di jangka pendek karena optimisme saat ini, kenaikan produksi minyak di Nigeria dan Libya dapat menjadi hambatan. Komitmen OPEC untuk memangkas produksi minyak sepertinya memperkuat harga minyak, namun kenaikan harga minyak ini juga mendukung minyak serpih (shale oil) AS. 

”Dari sudut pandang teknikal, minyak mentah WTI bullish di grafik harian. Breakout di atas USD51.00 dapat membuka jalan menuju kenaikan yang lebih besar lagi ke arah USD52.00. Di skenario alternatif, penurunan berkelanjutan di bawah USD50 dapat membuka jalan menuju USD48.50.

Emas kembali bearish pekan lalu karena peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember. Logam mulia ini tetap sangat sensitif terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga dan dapat semakin merosot apabila spekulasi semakin besar bahwa peluang peningkatan suku bunga Fed tahun ini semakin besar.

Menurutnya, walaupun ketegangan geopolitik di Korea Utara mungkin membuat pasar mencari aman, namun bearssepertinya mengabaikan hal ini seperti yang tergambar dalam aksi harga. Dari sudut pandang teknikal, para penjual memegang kendali setelah penutupan mingguan di bawah USD1300. Penurunan berulang kali di bawah USD1300 dapat menyebabkan depresiasi lebih lanjut menuju USD1280.

”EURUSD merosot pada sesi perdagangan hari Senin menuju 1.1870. Walaupun hasil pemilu Jerman mungkin berperan dalam aksi jual ini, koreksi teknikal masih dapat terjadi. Breakdown di bawah 1.1800 dapat membuka jalan menuju 1.1750. Dalam skenario alternatif, apabila 1.1800 dapat dipertahankan maka harga dapat memantul menuju 1.1920,” katanya. (wsa)


 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%