Inflasi Melambat di Bulan September, Ini Analisanya

Selasa, 03 Oktober 2017 | 14:56
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-Inflasi Indonesia kembali melambat untuk empat bulan berturut-turut pada bulan September ini mencapai level terendah sejak Maret karena penurunan harga pangan.

Harga konsumen meningkat 0.13 persen MoM di bulan September sehingga inflasi tahunan menurun menjadi 3.72 persen. Walaupun inflasi semakin melambat di kuartal terakhir 2017, Bank Indonesia diprediksi tidak akan mengubah suku bunga setelah memangkas suku bunga dua kali berturut-turut sebesar 0.25 persen.

”Mata uang pasar berkembang mengalami tekanan di hari Senin karena Dolar terapresiasi. Rupiah mungkin akan menghadapi lebih banyak risiko penurunan di jangka pendek karena ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini semakin meningkat,” kata Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.

Lukman mengatakan, Pound Sterling yang mengalami awal yang sulit di sesi perdagangan hari Senin setelah data sektor manufaktur Inggris lebih lemah dari ekspektasi dan menyiratkan bahwa ekonomi negara ini mungkin kehilangan momentum.

Pertumbuhan sektor manufaktur Inggris Raya melambat di bulan September, ditandai oleh Purchasing Managers' Index yang menurun dari level Agustus 56.7 menjadi 55.9.

”Laporan ini memperburuk kekecewaan dari data PDB Q2 Inggris yang lesu pekan lalu mencapai level terendah sejak 2013. Memasuki kuartal trading terakhir di tahun 2017, GBP mungkin kesulitan dan terpapar risiko penurunan karena data ekonomi yang lemah dan ketidakpastian Brexit amat membebani mata uang ini,” kata Lukman.

Dari sudut pandang teknikal, GBPUSD ini mengalami tekanan jual signifikan pada grafik harian. Breakdown tegas dan penutupan harian di bawah 1.3300 dapat menyebabkan penurunan lebih lanjut menuju 1.3150.

Lukman juga melihat, Euro melemah terhadap Dolar di hari Senin karena ketidakpastian situasi politik di Spanyol.

Catalonia mengadakan referendum kemerdekaan di hari Senin yang menunjukkan bahwa 90 persen pemilih menginginkan kemerdekaan, dengan tingkat partisipasi sebesar 42.3 persen.  Perkembangan situasi di Spanyol membangkitkan kembali ketidakpastian politik di Eropa sehingga Euro berpotensi mengalami tekanan jual lebih lanjut.

Menurutnya, kurs Dolar yang kuat juga memegang peran penting dalam penurunan EURUSD yang diperdagangkan di kisaran 1.1740 pada saat laporan ini dituliskan. USD lambat laun merebut kembali tahtanya karena peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga AS sehingga tren naik mingguan EURUSD saat ini terancam berakhir.

”Dari sudut pandang teknikal, EURUSD bulls tampak mulai melemah dan dapat kehilangan kendali di grafik mingguan jika harga berada di bawah 1.1680. Breakdown di bawah level ini dapat mendorong penurunan lebih lanjut menuju 1.1600 dan kemudian 1.1500,” katanya.

Emas meredup pada sesi Senin karena investor memasuki kuartal terakhir 2017 dengan optimis. Penurunan ini diperburuk oleh USD yang menguat dan peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang menjadi motivasi bagi bearsuntuk mengadakan aksi jual.

”Logam mulia ini mencapai penutupan harian di bawah USD1300 sehingga bears mungkin menyeret harga kembali ke USD1240 pada kuartal ini dan bahkan lebih rendah lagi,” katanya. 

”Dari sudut pandang teknikal, emas bearish pada rentang waktu mingguan. Penurunan di bawah USD1280 dapat membuat harga semakin melemah menuju USD1267 pekan ini,” tutupnya. (wsa)


 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%