Bina UKM, BELL Selamatkan Nasib Tukang Jahit

Kamis, 05 Oktober 2017 | 13:42
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MULIA : Produk fashion berkualitas ini hasil produksi tukang jahit binaan

INDOPOS.CO.ID - PELAMBATAN ekonomi merembet kemana-mana. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dengan melibatkan ribuan pelaku usaha kecil menengah (UKM) ikut terkena dampak negatif. Efeknya, tenaga kerja industri penjahitan dan pembuatan pakaian sesuai pesanan (tukang jahit) menyusut.

Merujuk data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) antara edisi 2010 hingga 2013, jumlah tukang jahit defisit 36,96 persen. Pada 2010 tukang jahit berjumlah 1.013, periode 2011 menjadi 42.684, fase 2012 tercatat 1.41 dan pada 2013 anjlok menjadi 677 orang.

Data itu tidak menyurutkan PT Trisula Textile Industries (BELL) dalam membina pelaku UKM terutama tukang jahit. Saat ini, perusahaan tengah membina setidaknya 400 tukang jahit sebagai garda terdepan dalam industri skala kecil. Tergabung dalam Bellini Tailor Club (BTC), tukang jahit itu secara berkala diberi pelatihan. ”Pelaku UKM itu kami bina dan berdayakan melalui anak usaha PT Mido Indonesia. Itu perhatian kami untuk mengangkat posisi tukang jahit menjadi pengusaha jahit,” tutur Direktur Utama BELL, Karsongno Wongso Djaja.

BTC itu tersebar pada 8 provinsi di seluruh indonesia. Mulai Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang (Sumatera), Bandung, Jawa Barat (Jabar), Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Solo dan Semarang, Jawa Tengah (Jateng). ”Kalau ada order di daerah tersebut, kami drop pada jaringan BTC. Sehari-hari, mereka hanya mendapat 1 atau 2 order,” tukas Karsongno.

Pembinaan khusus berupa training tentang manajemen pelayanan. Cara melayani dan menghadapi konsumen. Secara tidak langsung, pembinaan pelaku UKM memberi dampak pada perusahaan. Untuk penjualan banter bisa menyumbang 15-20 persen. ”Yang, penting tukang jahit ini terus berkembang. Dan, setelah kami bina, setiap bulan, pendapatan bisa mencapai Rp 6 juta per orang. Untuk daerah, pendapatan itu lumayan besar,” tambah Marketing Manager BELL, Lukas Ginting.

Tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota BTC. Yang penting bisa menjahit dan bukan menjahit kebaya. Misalnya, menjahit jas, seragam kantor, banking dan hotel. Pembinaan secara berkala dilakukan setahun sekali. ”Selain dilatih, kami juga carikan jaringan dan marketing,” ucap Lukas.

Perusahaan optimistis sektor tekstil masih sangat menjanjikan. Itu terjadi menyusul perkembangan fashion begitu pesat dan kebutuhan corporate uniform juga menanjak. Mengacu data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pertumbuhan tekstil di indonesia diprediksi terus membaik dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (compound annual growth rate/CAGR) 7,9 persen. ”Tahun lalu, industri tekstil pengeskspor kedua terbesar dunia dengan kontribusi 10,8 persen dari total ekspor,” jelas Karsongno.

Saat ini, perusahaan menggunakan merek Bellini dan Catarina untuk penjualan tekstil di pasar lokal (domestik) dan ekspor. Pasar ekspor meliputi Jepang, Timur Tengah (Timteng), Amerika Selatan (Amsel), Australia dan Vietnam. Untuk corporate uniform dikelola Mido Indonesia dengan klien-klien instansi pemerintah, perusahaan swasta dan BUMN.

Pada kuartal pertama tahun ini, aset perusahaan tercatat Rp 414 miliar, naik 7 persen dari posisi akhir 2016 sebesar Rp 387,98 miliar. Pendapatan Rp 111,35 miliar, terdiri dari penjualan domestik Rp 104 miliar dan ekspor Rp 6,99 miliar. Tahun lalu, penjualan lokal Rp 381 miliar dan ekspor Rp 34,6 miliar. Paling besar pendapatan disumbang bisnis polyster Rp 255 miliar, bisnis uniform Rp 130 miliar dan poly/rayon Rp 30,5 miliar.

Perusahaan telah mencatatkan saham perdahana (Initial Public Offering/IPO) di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Melepas 300 juta lembar dengan banderol Rp 150 per lembar, dalam hajatan itu, perusahaan mengantongi dana hasil IPO senilai Rp 45 miliar. Dana hasil IPO itu 71 persen dialokasikan untuk membeli mesin dan sisa 29 persen untuk modal kerja dalam mendukung operasional.

Di samping menawarkan saham ke publik, perusahaan juga member alokasi saham kepada karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebesar 0,38 persen dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum atau 1,15 juta lembar. Program itu ditujukan untuk karyawan dan anak usaha berjumlah 400 orang dengan tujuan meningkatkan rasa memiliki dan performa perusahaan. (far)

Data Tukang Jahit Versi Kementerian Perindustrian Edisi 2010 hingga 2013:

  1. Jumlah tukang jahit defisit 36,96 persen.
  2. Pada 2010 tukang jahit berjumlah 1.013,
  3. Pada periode 2011 menjadi 42.684,
  4. Fase 2012 tercatat 1.410
  5. Pada 2013 anjlok menjadi 677 orang

Upaya Pembinaan Tukang Jahit oleh PT Trisula Textile Industries (BELL):

  1. Membina sekitar 400 tukang jahit
  2. Dibuat organisasi Bellini Tailor Club (BTC)
  3. Secara berkala diberi pelatihan melalui anak usaha
  4. Sasaran mengangkat posisi tukang jahit menjadi pengusaha jahit
  5. BTC itu tersebar di delapan provinsi di seluruh indonesia. Mulai Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang (Sumatera), Bandung, Jawa Barat (Jabar), Surabaya, Jawa Timur, Solo dan Semarang, Jawa Tengah.
  6. Mengerjakan order induk perusahaan
  7. Pendapatan bulanan rata-rata Rp 6 juta per orang.
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%