Holding Migas Jatuhkan Saham PGAS

Senin, 09 Oktober 2017 | 21:55
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal membentuk induk usaha bergerak pada sektor minyak dan gas (Migas). Itu dibentuk untuk mendorong perekonomian dan ketahanan energi nasional melalui sinergi Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGAS).

Rencana itu mendapat respon negatif pelaku pasar. Itu terefleksi dari aksi jual investor terhadap saham perusahaan. Bahkan, koreksi saham perseroan menyentuh level terendah sejak 8 tahun terakhir. Pada perdagangan Senin (9/10), saham perusahaan teronggok di kisaran Rp 1.365 per lembar.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyebut, koreksi saham perusahaan karena kelangkaan sentiment positif. Apalagi, saat ini justru ada sentiment negatif seperti pembatasan harga jual gas dan rencana holding (induk usaha) BUMN Migas. ”Jadi, sebagai distributor gas, perusahaan cukup tertekan,” tutur Reza, di Jakarta, Senin (9/10).

Hal senada diungkap analis Infovesta Utama, Praska Putrantyo. Praska menilai koreksi saham perusahaan lebih kepada faktor fundamental. Khususnya dengan kebijakan penetapan harga jual gas dan pembentukan induk usaha BUMN Migas. ”Isu-isu seperti itu membuat investor cari aman,” ulasnya.

Praska melanjutkan, selain menunggu kejelasan isu holding BUMN migas, tren koreksi juga dipengaruhi fundamental perusahaan. Maklum, performa perusahaan sepanjang semester pertama tahun ini, di luar ekspektasi. Data dan fakta paruh pertama tersebut, cukup memberi gambaran bagaimana sebaiknya trader mengambil sikap dan posisi terhadap saham perseroan. ”Kinerja itu tidak bisa dipisahkan dari fundamental perusahaan,” ucapnya.

Di penghujung Juni 2017, perseroan membukukan laba periode berjalan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 50,28 juta. Melorot 67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pendapatan neto tercatat USD 1,41 miliar atau merosot 1,9 persen. Pola koreksi saham perusahaan juga tidak terlepas dari anomali harga jual. ”Pada dasarnya harga minyak dan gas ditetapkan pemerintah. Jadi, menunggu juga keputusan pemerintah terkait gas,” tegasnya.

Secara teknikal, sebut Praska, pihaknya merekomendasikan para pelaku pasar untuk mentransaksikan saham perusahaan dalam jangka pendek di kisaran Rp 1.550-1.700 per lembar saham. ”Tentu, untuk membalik arah menunggu kabar soal isu holding dan perbaikan laporan keuangan,” tukas Praska. (wsa)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%