Krisis, Pelaku Usaha Kulit Menjerit

Rabu, 11 Oktober 2017 | 16:33
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Krisis ekonomi cukup ampuh memukul kelanjutan industri. Usaha dengan segala turunan dan tingkatannya tidak luput dari dampak negatif. Industri ditingkat usaha kecil dan menengah (UKM) juga tidak bisa mengelak.

Memang tidak sampai membangkrutkan kelanjutan usaha. Tetapi, kalau situasi dan kondisi tidak mengalami perubahan signifikan, bukan tidak mungkin pelaku UKM berujung gulung tikar. Sebab, jangankan mengoleksi untung, untuk sekadar bertahan di tengah gempuran krisis, sudah tergolong luar biasa.

”Keadaan tengah lesu. Permintaan menurun dan berakibat pada pendapatan tidak terlalu signifikan. Bisa menutupi operasional sehari-hari sudah termasuk sangat beruntung,” tutur Owner Kulit Mas, Tri Widodo.

Kulit Mas, memproduksi beragam hasil kerajinan tangan dari kulit buaya. Produk kerajinan tersebut diolah dari kulit asal Merauke. Misalnya, tas wanita, dompet, sepatu pria dan wanita, sabuk hingga gantungan kunci. Hasil kerajinan tangan berbahan dasar kulit itu tergolong sepi peminat. ”Kalau sebelum ada krisis, pembeli itu tidak banyak nawar. Sekarang rumit, kadang hampir mendekati deal, eh tidak jadi,” ucap Tri.

Tri sadar daya beli konsumen menurun. Karena itu, sebagai pelaku usaha rumahan, ia tidak mengandalkan pendapatan dari penjualan hasil kerajinan kulit semata. Untuk menambah pendapatan tidak minus, Tri mengaku mencari pendapatan dari sumber lain. Sebab, tidak mungkin bertahan kalau hanya bersandar dan terpaku pada satu jenis usaha. ”Ya, kreatif dan inovatif. Tidak boleh apatis dalam situasi sulit,” tukas Tri mengulas.

Sebetulnya, produk hasil kerajinan kulit itu, dari segi banderol harga standar. Untuk kalangan tertentu, masalah harga tidak menjadi masalah. Artinya, harga itu tergolong relatif. Tas wanita dengan lima model dibanderol Rp 4,5 juta hingga Rp 12 juta, dompet wanita dengan banyak model dilabeli harga Rp 750 ribu hingga Rp 2,5 juta, Sepatu pria dan wanita ditetapkan Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta, sabuk khusus laki-laki antara Rp 850 ribu hingga Rp 1,5 juta dan, gantungan kunci bisa ditebus seharga Rp 30 ribu. ”Paling laris dompet cowok. Tidak mengerti mengapa kaum pria tidak banyak memburu dompet,” ucapnya.

UKM binaan Pertamina itu mengklaim tidak cukup hanya mengandalkan dari satu event ke event lainnya. Harus ada kreatif, supaya tetap bisa mengoperasikan tiga gerai yang tengah dikomandoi. Tiga gerai itu tersebar di Bandara Sentani, Swiss- Belhotel dan Ruko di Merauke. ”Untuk omset dan pendapatan tidak bisa kami ungkap. Ya, cukuplah untuk bertahan,” tukasnya. (far)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%