Penghuni Lapas Makin Kreatif di Balik Jeruji

Kamis, 12 Oktober 2017 | 13:17
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Penghuni Lembaga Pemasyarakatan kini lebih berdaya dan aktif dalam berkreasi. Lewat kemampuan yang terpendalam dalam dirinya, mereka mampu menghasilkan beragam  barang yang apik dan layak untuk bersaing di pasar.

Deretan produk mereka disuguhkan dalam ajang pameran Trade Expo Indonesia ke-32 di Ice Bsd, Rabu (11/10). ” Ada 25 Lapas dan 11 produk karya WBP yang sudah diekspor ke luar negeri,” jelas Harun Sulianto Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi (Latkerpro).

Pada pameran Trade Expo Indonesia Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum memiliki stan. Beragam produk unggulan karya narapidana dipamerkan. Di antaranya jeera bag, produk tas karya WBP Rutan Kelas I Cipinang yang sudah diekspor ke Timur Tengah. Harganya mulai Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta. Terbuat dari kulit asli.

"Ini sudah di ekspor ke Dubai (Uni Emirat Arab). Tapi harganya lebih murah dibandingkan tas kulit yang sama yang saya temukan di Kota Kasablanka," kata Harus.

Lalu ada kursi malas atau ayunan yang terbuat dari anyaman plastik. Harganya Rp 3,5 juta. Kursi ini karya napi Lapas Narkotika Cirebon. Produknya sudah diekspor Jerman, Perancis, dan Timur Tengah. "Ini ada juga meubelair karya WBP Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong yang diekspor ke Eropa," ungkap Harun sembari menujukkan satu per satu produk karya napi.

Tak hanya produk buatan napi di Jawa. Ada produk karya napi di Lapas Kelas IIA Pontianak berupa tikar kayu yang juga sudah diekspor ke Malaysia. Dari ujung timur pulau Jawa, ada produk karya WBP Lapas Kelas IIB Banyuwangi berupa kerajinan kayu dan alat makanan yang sudah diekpor ke Jepang dan Korea Selatan.

Harun Sulianto menjelaskan, acara pameran Trade Expo Indonesia ke-32 yang ditaksir dikunjungi sebanyak 1.000 pembeli(buyer). Mereka delegasi dari 62 negara. Di sinilah potensi yang bisa diraih, terutama menambah jumlah pembeli dari mancanegara. Kemudian tentunya menambah penghasilan para narapidana yang menjadi perajin dalam penjara.

"Merek ini mendapat penghasilan karena digaji berdasarkan keahliannya. Kalau yang sudah punya skill, mereka mendapat premi (gaji) sesuai UMR," ungkap Harun.

Meski sudah menembus pasar internasional, Harun mengharapkan, karya-karya produk-produk unggulan WBP atas pembinaan Ditjen PAS dapat mengikuti selera pasar. Tiap produk karya WBP harus memperhatikan desain kreatif dan inovatif. Sekaligus mengikuti perkembangan zaman dengan dipasarkan melalui cara online.

”Kami (Ditje PAS-red) sedang menuju bagaimana cara memiliki aplikasi Pemasyarakatan Online. Kemudian meningkatkan jumlah negara yang menerima produk karya WBP yang akan diekspor,“ katanya.

Harun mengungkapkan pameran produk-produk karya WBP di Lapas maupun Rutan se-Indonesia di Trade Expo Indonesia ke-32, berkat kerjasama dengan Kementerian Perdagangan. Semua itu bermula saat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melihat Dirjen PAS menggelar beberapa karya-karya WBP di Terminal III Soekarno-Hatta.

Menteri Perdagangan tersebut tertarik untuk mengikutsertakan karya-karya WBP dalam acara pameran Trade Expo Indonesia ke-32 tahun ini. ”Pak Enggar menghubungi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan untuk mengajak Ditjen PAS memindahkan pameran karya produk WBP Lapas maupun Rutan se-Indonesia ke acara Trade Expo Indonesia ke-32,” ujar Harun.

Pada pembukaan Trade Expo Indonesia tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi stan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Harun Sulianto yang menyambut Presiden Jokowi di stan Ditjen PAS mengatakan, Presiden memberikan apresiasi atas pameran produk-produk napi tsb dan sempat bertanya tentang beberapa produk tersebut. (uma)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%