Rupiah Tertekan, Fokus Pada Investasi Asing Langsung

Jumat, 27 Oktober 2017 | 21:58
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Sebagian besar mata uang pasar berkembang di Asia tertekan di hari Kamis karena Dolar terangkat oleh spekulasi bahwa John Taylor, seorang pejabat hawkish, diprediksi dapat menjadi pemimpin Fed berikutnya.

Rupiah melemah terhadap Dolar pada perdagangan hari Kamis. USDIDR bergerak di kisaran 13590 pada saat laporan ini dituliskan. Dengan meningkatnya optimisme terhadap reformasi pajak Donald Trump dan spekulasi bahwa pemimpin Fed berikutnya akan hawkish, Rupiah dan mata uang pasar berkembang lainnya akan mengalami tekanan.

”Walaupun Dolar mungkin terus lebih kuat dari Rupiah di jangka pendek, makroekonomi Indonesia yang menggembirakan dapat mendukung Rupiah di jangka panjang,”  kata Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.

Indeks Harga Saham Gabungan melampaui level resistance psikologis yaitu 6000 dan ditutup menguat -0.49 persen pada 5995.847 di hari Kamis.

”Perhatian investor akan tertuju pada laporan investasi langsung asing diharapkan menjelaskan seberapa banyak investasi asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal ketiga 2017. Data di atas estimasi pasar akan mendukung semakin positifnya sentimen terhadap ekonomi Indonesia,” katanya.

Lukman melihat, Pound rentan melemah di hari Kamis pasca laporan bahwa penjualan ritel Inggris merosot dengan laju paling cepat dalam delapan tahun terakhir.

Penjualan ritel Inggris merosot ke -36 di bulan Oktober karena kenaikan inflasi dan pertumbuhan upah yang lambat merusak daya beli konsumen. Pertumbuhan upah sangat kesulitan untuk mengejar inflasi yang saat ini berada di level tertinggi dalam lima setengah tahun yaitu 3 persen, sehingga daya beli konsumen pun terganggu.

”Apabila pola penurunan penjualan ritel ini berkelanjutan, masa depan pertumbuhan ekonomi Inggris yang berbasis konsumen pun mengkhawatirkan,” katanya.

Bulan Oktober secara umum adalah bulan trading yang mengecewakan untuk Pound, terutama karena fundamental ekonomi memburuk dan perkembangan negosiasi Brexit lambat sehingga Pound pun terpukul.

Inflasi Inggris Raya melonjak ke level tertinggi dalam lima setengah tahun terakhir di level 3 persen sedangkan pertumbuhan upah tetap lambat. ”Sektor rumah tangga merasakan tekanan karena pertumbuhan upah lebih lambat dari inflasi, sehingga muncul kekhawatiran mengenai keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Inggris yang berbasis konsumsi,” papar Lukman.

Bears mendapat dukungan signifikan karena Dolar menguat di hari Kamis. Harga emas merosot menuju USD1273.

”Selera investor terhadap aset berisiko sepertinya kembali bangkit karena optimisme terhadap reformasi pajak Trump sehingga pesona logam mulia ini pun semakin pudar,” katanya.

Menurut Lukman, ada spekulasi bahwa John Taylor, pejabat yang dipandang hawkish, berpotensi menjadi ketua dewan gubernur Fed berikutnya. Karena itu, emas dapat semakin mengalami tekanan jual.

”Dari aspek teknis, logam mulia ini tetap bearish di grafik harian. Harga saat ini berada di bawah 50 SMA. Penurunan berkelanjutan di bawah USD1280 dapat membuka jalan menuju USD1267. Breakdown tegas dan penutupan harian di bawah USD1267 akan memicu bears untuk membidik level USD1260 kemudian USD1250,” tutupnya. (wsa)


 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%