Digitalisasi Mutlak untuk UKM

Rabu, 01 November 2017 | 11:30
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) mutlak menerapkan sistem digital. Digitalisasi ekonomi tidak bisa dibendung dan harus diterapkan walau dengan segala kerumitannya. Kalau pelaku usaha tidak menyelaraskan diri dengan perkembangan teknologi, maka koperasi dan UKM akan ketinggalan dan tergilas dalam persaingan usaha.

Dalam era Triple T Revolution, telekomunikasi telah memakai sistem wireless, transportasi menunjang distribusi barang dan jasa just in time (JIT), dan travel and tourism didominasi pelaku bisnis online atau e-Commerce. Pendeknya, memesan hotel, tiket pesawat, hingga destinasi wisata sudah memakai platform online.

Karena itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemnekop dan UKM) mendorong pelaku KUKM menerapkan sistem digital ekonomi dan platform pemasaran bisnis e-commerce. ”Dalam menciptakan koperasi berkualitas, harus berbasis teknologi, pelatihan dan transparansi,” tutur Sekretaris Kemenkop dan UKM, Agus Muharram kemarin.

Meski begitu, dari total 151 ribu koperasi, baru sekitar 10 persen berbasis teknologi dalam pelaporan ke publik. Pelaku UMKM berjumlah 59,2 juta hampir 98 persen pelaku usaha mikro, baru 3,5-5 persen mengarah pada penerapan sistem berbasis teknologi. Kondisi itu masih jauh dari ekspektasi. Artinya, pelaku KUMKM untuk menerapkan bisnis secara online, harus digenjot lebih keras.

Agus melanjutkan kontribusi koperasi terhadap PDB nasional tahun lalu mencapai 3,99 persen dari sebelumnya 1,71 persen. Begitu pun rasio kewirausahaan telah bertengger di posisi 3,1 persen dari tahun-tahun sebelumnya hanya 1,65 persen. Nah, kalau ekonomi makro stabil, rasio kewirausahaan minimal 2 persem. Hingga penghujung 2019 nanti, rasio kewirausahaan nasional dipatok berada di level 5 persen.

Pengamat ekonomi Faisal Basri menyebut pemerintah wajib melakukan perbaikan infrastruktur pendukung digitalisasi industri. Selain membangun infrastruktur fisik, pengembangan digitalisasi industri tidak kalah krusial. Itu penting supaya Indonesia tidak tertinggal dalam era revolusi industri fase keempat atau lazim disebut industri 4.0.

Faisal menegaskan, fasilitas infrastruktur digital Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Sebagai contoh, di bidang internet, kecepatan internet di Indonesia pada triwulan pertama 2017 baru mencapai 7,2 megabyte (MB) per detik. Memang lebih baik dari Filipina dan India. Namun, kalah jauh dibanding Srilangka, Vietnam dan Malaysia. ”Meski begitu, urusan bisnis (business egality) industri digital Indonesia sangat baik menyusul kelincahan para pengusaha luar biasa,” puji Faisal. (far)

Fakta dan Harapan Digitalisasi pada Koperasi dan UKM

  1. Total 151 ribu koperasi, baru sekitar 10 persen berbasis teknologi dalam pelaporan ke publik.
  2. Pelaku UMKM berjumlah 59,2 juta hampir 98 persen pelaku usaha mikro, baru 3,5-5 persen mengarah pada penerapan sistem berbasis teknologi.
  3. Kondisi itu masih jauh dari ekspektasi, perlu kerja keras mendorong pelaku KUMKM untuk menerapkan bisnis secara online.
  4. Kontribusi koperasi terhadap PDB nasional tahun lalu mencapai 3,99 persen dari sebelumnya 1,71 persen.
  5. Rasio kewirausahaan bertahan di posisi 3,1 persen dari tahun-tahun sebelumnya hanya 1,65 persen. Ekonomi makro stabil jika rasio kewirausahaan minimal 2 persem.
  6. Penghujung 2019 nanti, rasio kewirausahaan nasional dipatok berada di level 5 persen.
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%