Kenaikan Harga Desember Bisa Picu Inflasi

Kamis, 02 November 2017 | 08:57
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID– Tren inflasi rendah masih berlangsung. Kemarin (1/11) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi Oktober cukup rendah, yakni 0,01 persen. Namun, kenaikan harga-harga kebutuhan pada akhir tahun tetap harus diwaspadai.

Inflasi tahun kalender 2017 (year to date) mencapai 2,67 persen. Sementara itu, inflasi year on year (yoy) masih terjaga di 3,58 persen. 

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, ada potensi kenaikan harga barang menjelang akhir tahun yang dipicu musim liburan, persiapan Natal, dan tahun baru. ’’Mudah-mudahan bisa kita tekan sehingga tidak terjadi fluktuasi harga,’’ katanya di kantornya kemarin.

Suhariyanto melanjutkan, sepanjang Oktober, ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yakni bahan makanan, transportasi, komunikasi, serta jasa keuangan. Sementara itu, lima kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi.

Kelompok bahan makanan mengalami deflasi hingga minus 0,54 persen dengan andil 0,09 persen. Menurut Suhariyanto, hal itu disebabkan selama Oktober banyak komoditas pangan yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil terhadap deflasi.

Meski demikan, ada juga beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga menyumbangkan inflasi. Yakni bawang merah dan beras. ’’Dua komoditas ini perlu perhatian khusus,’’ kata Suhariyanto.

Sementara itu, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menuturkan bahwa inflasi Oktober yang hanya 0,01 persen memang tergolong rendah. Namun, dia menekankan, beberapa penyebab inflasi bulan lalu adalah kenaikan harga bahan makanan atau volatile food seperti beras dan cabai merah.

Untuk itu, pemerintah tetap harus mewaspadai pasokan bahan makanan, khususnya menjelang tren musiman Natal dan tahun baru. ’’Jadi, pemerintah perlu menjaga pasokan bahan makanan ini,’’ ujarnya kemarin.

Selain itu, lanjut Bhima, pemerintah sebaiknya memonitor pergerakan biaya transportasi, baik darat maupun udara, yang biasanya juga naik pada akhir tahun. Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia (ICP) sudah lebih dari USD 52 per barel. Besaran harga tersebut sudah berada di atas asumsi makro APBNP 2017 yang hanya USD 50.

’’Karena itu, diharapkan pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga BBM sampai akhir tahun untuk menjaga inflasi,’’ ujarnya.

Meski begitu, Bhima memprediksi target inflasi tahun ini yang ditetapkan di angka 4 persen bisa tercapai. ’’Inflasi tahun 2017 diproyeksi akan berada dalam range 3,9–4,1 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari tahun 2016 sebesar 3 persen. Tapi masih terkendali,’’ imbuhnya.

Di sisi lain, khusus di Jatim, inflasi Oktober mencapai 0,02 persen. Inflasi didorong tiga komoditas utama, yaitu beras, biaya sewa rumah, dan biaya kuliah. Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Jatim Farihin mengatakan, berkurangnya produksi beras di sejumlah daerah membuat harga beras melonjak. ’’Curah hujan yang terlalu tinggi membuat pasokan beras berkurang,’’ ujarnya di Surabaya kemarin.

Faktor pendorong terbesar terhadap kenaikan IHK adalah komoditas beras. Sebab, harga beras naik di delapan kota yang ditinjau BPS Jatim. Inflasi tertinggi terjadi di Madiun, Banyuwangi, lalu Surabaya. Kota yang mengalami deflasi terbesar adalah Probolinggo, Jember, dan Kediri.

Hingga Oktober 2017, Kota Madiun menjadi daerah dengan inflasi tahun kalender tertinggi, yaitu mencapai 4,19 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender terendah terjadi di Probolinggo dan Banyuwangi yang masing-masing 2,20 persen dan 2,21 persen. (tau/ken/pus/c19/sof/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%