Hati-Hati, Penguatan Rupiah Masih Bisa Terhambat

Sabtu, 04 November 2017 | 07:03
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MENGUAT: Petugas sedang menata uang rupiah. Foto: dok.indopos

INDOPOS.CO.ID- Ditunjuknya Jerome Powell sebagai ketua Bank Sentral AS (The Fed) membuat pasar memandang bahwa sikap The Fed cenderung berhati-hati (dovish). Terbukti, rupiah perlahan menguat ke Rp 13.500 per USD kemarin (3/11). Dalam beberapa hari terakhir, kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) sempat melemah hingga level terendahnya di Rp 13.630 per USD. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengatakan, penunjukan Powell oleh Presiden AS Donald Trump membuat pasar berharap terjadi komunikasi yang baik antara The Fed dan bank-bank sentral lain di dunia.  ”Jerome Powell dikenal sebagai sosok yang baik kepribadiannya. Harapannya, ada komunikasi yang baik seperti pada saat Janet Yellen (memimpin The Fed, Red), jadi tidak ada kebijakan yang tiba-tiba (dikeluarkan),” katanya, Jumat (3/11).

Sementara itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyatakan, dalam jangka pendek hingga akhir tahun, meski saat ini sedang menguat, rupiah sebetulnya masih berpotensi melemah di kisaran Rp 13.500 hingga Rp 13.600 per USD. Penyebabnya, risiko fiskal yang meninggi lantaran potensi penerimaan pajak yang rendah.

Sementara itu, dari eksternal, ada ekspektasi pasar mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2017 mendatang. ”Shortfall pajak pemicunya. Kalau nanti akhir tahun penerimaan pajak di bawah 90 persen, risikonya besar. Dana asing keluar-masuk masih akan ada,” ujarnya.

Hingga September 2017, penerimaan pajak baru mencapai Rp 770 triliun atau 60 persen dari target sebesar Rp 1.283,6 triliun. Namun, lanjut Eko, risiko tersebut dapat diredam jika pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 bisa bagus. 

Dari sisi bank sentral, Eko menilai, BI sebetulnya masih punya bantalan yang kuat jika rupiah melemah pada akhir tahun nanti. Sebab, cadangan devisa Indonesia mencapai USD 129,4 miliar pada September lalu.

Angka tersebut adalah rekor cadangan devisa tertinggi yang pernah diraih Indonesia sepanjang sejarah. ”Tampaknya, Trump memilih Powell karena dia lebih bisa diajak bekerja sama untuk kebijakan moneter yang mengarah pada perbaikan ekonomi AS,” tuturnya. (rin/c25/sof/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%