BI Pertahankan Suku Bunga 4,25 Persen, Pasar Finansial Tidak Bersemangat

Jumat, 17 November 2017 | 17:46
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, reaksi pasar finansial Indonesia relatif tidak bersemangat di hari Kamis setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25 persen.

Pilihan ini menyoroti upaya BI untuk mempertahankan stabilitas finansial menjelang keputusan suku bunga AS yang diprediksi ditingkatkan di bulan Desember.  Poin penting dari rapat ini adalah revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2017 menjadi 5,1 persen.

”Konsumsi Indonesia berpotensi menguat di kuartal terakhir 2017 dan optimisme terhadap ekonomi global pun meningkat, sehingga menarik untuk dicermati apakah target 5,1 persen akan berhasil dicapai,” kata Lukman Otunuga.

Para penjual segera menyerang Dolar pada Rabu setelah harga konsumen AS hanya meningkat sedikit yaitu 0,1 persen di Oktober. Ini adalah kenaikan terendah dalam tiga bulan terakhir. Meskipun kenaikan harga konsumen sebesar 0,1 persen ini sesuai dengan ekspektasi pasar, ini membuktikan bahwa inflasi di Amerika Serikat tetap sangat rendah.

Federal Reserve diperkirakan akan meningkatkan suku bunga di bulan Desember, namun rencana kenaikan suku bunga setelah 2017 masih menjadi tanda tanya karena masalah rendahnya inflasi. Dari sisi positif, penjualan ritel AS meningkat di luar dugaan sebesar 0,2 persen di Oktober sehingga dapat memperbaiki sentimen terhadap ekonomi AS dan mendukung Dolar yang melemah. 

”Dari sudut pandang teknis, Indeks Dolar merosot menuju 93,40 setelah rilis data ini. Level 94,00 dapat berubah menjadi resistance dinamis yang dapat memicu penurunan lebih lanjut menuju 93,50 dan 93,00. Breakout tegas di atas 94,50 mengancam situasi bearish saat ini,” katanya.

Pound sedikit menguat pada Kamis pagi karena penjualan ritel Inggris meningkat di bulan Oktober. Penjualan ritel Inggris naik 0,3 persen MoM di bulan Oktober namun turun -0,3 persen YoY karena kenaikan inflasi dan pertumbuhan upah yang lambat merusak daya beli konsumen.

”Pertumbuhan upah masih kesulitan untuk mengejar inflasi sehingga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Inggris yang berbasis konsumen pun akan menjadi masalah,” papar Lukman. 

Wall Street mencatat penurunan keempat dalam lima hari perdagangan terakhir di hari Rabu dan merosot ke level terendah tiga pekan. S&P 500 ditutup 1,25 persen di bawah level rekor tertinggi pada 7 November. Aksi jual di hari Rabu didorong oleh sektor energi dan konsumen non-siklikal yang melemah 1,1 persen dan 1 persen sedangkan sektor telekomunikasi dan keuangan berhasil bertahan di teritori positif. 

Untuk emas, Lukman menilai masih mencari arah pada Kamis dan harga berada di bawah level resistance USD1280. Penurunan berkelanjutan di bawah USD1280 dapat menyebabkan depresiasi lebih lanjut menuju USD1267. Sebaliknya, breakout di atas USD1280 dapat membuka pintu menuju USD1289 dan kemudian USD1300. (wsa)
 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%