Minyak Tidak Bergairah dengan Perpanjangan OPEC, Bitcoin Volatil

Senin, 04 Desember 2017 | 19:02
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi

 

INDOPOS.CO.ID - Investor yang berharap OPEC akan mengambil "langkah luar biasa" untuk menyeimbangkan pasar harus kecewa pada hari Kamis karena OPEC hanya sepakat untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak hingga akhir 2018.

Research Analyst ForexTime Lukman Otunuga mengatakan, walaupun bulls jangka pendek sedikit terdukung dengan keputusan OPEC untuk memperpanjang kesepakatan ini selama sembilan bulan, reaksi pasar secara umum yang kurang bersemangat menandakan bahwa langkah ini sudah terefleksikan dalam harga. Bahkan ada kecurigaan bawa persetujuan Nigeria dan Libya untuk turut membatasi produksi di tahun 2018 adalah alasan utama mengapa harga minyak tetap stabil pasca rapat ini.

”OPEC mempertahankan pemangkasan produksi guna mengangkat harga, namun produksi minyak serpih AS telah meningkat sebesar 3 persen di bulan September mencapai 9.48 juta barel per hari. Semakin jelas bahwa harga minyak akan terus terekspos ke risiko penurunan karena peningkatan produksi minyak serpih AS mengganjal upaya OPEC untuk menyeimbangkan pasar,” kata Lukman Otunuga.

Dari sudut pandang teknikal, minyak mentah WTI masih memenuhi persyaratan tren bullish pada grafik harian karena secara konsisten level tertinggi yang lebih tinggi dan level terendah yang lebih tinggi. Breakout di atas USD58.00 dapat membuka jalan menuju kenaikan yang lebih besar lagi ke arah USD59.00. Selain itu, penurunan berkelanjutan di bawah USD56.75 dapat memicu penurunan ke arah USD56.00.

Peristiwa berisiko utama untuk ekonomi Indonesia di hari Senin adalah laporan inflasi November yang diprediksi menunjukkan bahwa harga konsumen meningkat 0.3 persen di bulan tersebut. Inflasi Indonesia melambat untuk empat bulan berturut-turut pada bulan Oktober di level 0.01 persen karena penurunan harga pangan, sehingga akan menarik untuk mencermati apakah ada kejutan positif di bulan November.

”Memasuki bulan trading terakhir di tahun 2017, investor akan terus memperhatikan data ekonomi guna mempelajari apakah Indonesia akan mampu mencapai target pertumbuhan yang ditetapkan pemerintah yaitu 5.2 persen di bulan 2017,” kata Lukman.

Emas tertekan pada perdagangan hari Kamis menuju USD1270 karena sentimen risk-on dan data ekonomi AS yang positif mengurangi ketertarikan investor pada aset safe haven.

”Walaupun logam mulia ini sedikit menguat hari ini karena Dolar melemah, bears masih memegang kendali di bawah level resistance USD1280. Dari sudut pandang teknikal, penurunan berkelanjutan di bawah USD1280 dapat memicu penurunan lebih lanjut menuju USD1267. Break di atas USD1280 dapat membuka jalan menuju USD1289,” katanya.

Lukman melihat, pekan trading ini sangat volatil untuk Bitcoin yang melesat ke level tertinggi di atas USD11400 di hari Rabu.

”Saya sangat terkesima melihat bagaimana uang kripto ini memasuki pasar bearish dengan merosot tajam menuju USD9000 setelah mencapai rekor tertinggi dan kemudian kembali memasuki pasar bullish dalam kurang dari 24 jam. Tapi untuk Bitcoin, segalanya mungkin terjadi,” katanya.

Namun demikian, Lukman menilai uang kripto terfavorit ini tidak memiliki nilai intrinsik dan memang bersifat tidak stabil secara inheren, sehingga ada kekhawatiran bahwa ini hanyalah bubble spekulatif yang sangat besar. Bitcoin telah berulang kali memantul lebih kuat di tengah derasnya kritik dan komentar negatif, namun aksi harga saat ini mengisyaratkan bahwa bulls mungkin telah letih.

”Dari sudut padang teknis, level psikologis USD10000 cukup signifikan. Penutupan tahunan di atas level ini dapat menandakan peningkatan lebih lanjut. Sebaiknya, penurunan di bawah USD10000 dapat memicu kegelisahan yang mengakibatkan penurunan di bawah USD9000,” katanya. (wsa)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%